Senin, 20 April 2026

Kasus Gagal Ginjal Akut

Kabar Baik dari Sumedang, Belum Ada Kasus Gagal Ginjal Akut Misterius, Terus Pantau

Kasus kematian anak akibat gagal ginjal menjadi perhatian khusus setiap kepala daerah, tak terkecuali Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir. 

Penulis: Kiki Andriana | Editor: Giri
Tribun Jabar/Kiki Andriana
Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, saat diwawancara TribunJabar.id di Jatinangor, Sumedang, Senin (24/10/2022). Belum ada kasus gagal ginjal akut di Sumedang.  

Laporan Kontributor TribunJabar.id Sumedang, Kiki Andriana

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Kasus kematian anak akibat gagal ginjal menjadi perhatian khusus setiap kepala daerah, tak terkecuali Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir

Beruntung, belum terjadi kasus tersebut di Sumedang, hingga Senin (24/10/2022).

Dony berharap kasus itu bertul-betul tak terjadi di Sumedang

"Kami terus pantau. Kami juga melalui dinas kesehatan sudah mengeluarkan surat edaran terkait kewaspadaan akan kasus tersebut," kata Dony di Jatinangor, Senin (24/10/2022). 

Dalam surat edaran itu, masyarakat diminta tidak mengonsumsi obat cair yang diduga memicu gagal ginjal.

Surat edaran itu sekaligus mengimbau para dokter dan apoteker agar tak meresepkan obat cair untuk masyarakat. 

Baca juga: Satu Kasus Gagal Ginjal Akut Ditemukan di Subang, Dialami oleh Bocah Berusia 14 Tahun Asal Ciasem

"Kami sudah terjun ke puskesmas, konsolidasi dengan bidan desa, dengan posyandu, untuk senantiasa mendeteksi jika ada gejala-gejala di masyarakat yang mengarah ke sana," katanya. 

Dony menegaskan, Pemkab Sumedang waspada dan antisipatif terhadap kasus yang melanda sejumlah wilayah di dunia ini. 

Gagal ginjal akut dan misterius ini diduga diakibatkan kandungan etilen glikol dan dietilen glikol, yang dipakai untuk melarutkan parasetamol.

Senyawa itu oksidasi menjadi senyawa berbahaya saat bercampur dengan enzim di dalam tubuh. 

Baca juga: Etilen Glikol Dicurigai Jadi Biang Kerok Kematian Akibat Gagal Ginjal Akut, Ini Penjelasan IDAI

Kepala Dinas kesehatan Kabupaten Sumedang, Dadang Sulaeman, mengatakan, masyarakat bisa menggunakan cara-cara non-farmakologis untuk menangani sakit. 

"Misalnya anak yang sakit demam boleh ditangani dengan cara-cara seperti mengompres dengan air atau dengan cara-cara yang akrab dengan kebiasaan masyarakat yang tidak buruk bagi kesehatan," katanya. 

Meski, kata Dadang, jika sakit berlanjut, maka wajib yang sakit itu dibawa ke dokter untuk penanganan lebih lanjut. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved