Tragedi Arema vs Persebaya
Tragedi Arema vs Persebaya: Dosen Sosiologi Unpad Bilang Ada Crowd Behavior, Apa Itu?
Kekalahan Arema dari Persebaya memicu para pendukungnya untuk menghasilkan crowd behavior karena telah menganggap tim sebagai identitas sosial.
Penulis: Muhamad Nandri Prilatama | Editor: Hermawan Aksan
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kerusuhan yang menewaskan ratusan suporter di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022), menjadi tragedi kelam untuk sepak bola Indonesia, bahkan dunia.
Evaluasi terhadap penyelenggaraan sepak bola di Indonesia wajib dilakukan oleh semua pihak.
Dosen Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unpad Hery Wibowo mengatakan bahwa menjadi suporter di suatu klub sepak bola menjadi identitas sosial yang membanggakan dan mampu meningkatkan citra diri.
"Identitas sosial ini mampu meningkatkan status atau harga diri pada konteks kehidupan bermasyarakat," ujarnya, Selasa (4/10/2022).
Baca juga: Kisah Haru Pemain Arema FC di Tengah Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan
"Dari anggota masyarakat yang bukan siapa-siapa, mereka dapat merasa menjadi seseorang atau warga negara berstatus menengah dengan menjadi suporter aktif dari klub tertentu."
Militansi suporter, kata Hery, sangat terlihat ketika klub idolanya akan bertanding, apalagi kemarin-kemarin pertandingan sepak bola sudah kembali diperbolehkan disaksikan secara langsung di dalam stadion ketika kondisi pandemi melandai.
Misalnya penonton membeludak ketika laga Arema FC vs Persebaya yang konon melebihi jumlah tiket yang dicetak.
Ketua Prodi Sosiologi Fisip Unpad itu menyebut keberadaan pendukung di stadion memiliki dinamika tersendiri, seperti potensi menghasilkan perilaku crowd.
Perilaku tersebut sebagai fenomena ketika sejumlah orang yang berkumpul dalam suatu kerumunan khusus maka akan berpotensi menghasilkan perilaku yang tak akan terjadi pada situasi normal.
"Fenomena itu menjadi perilaku individu yang memicu perilaku kolektif."
"Seseorang yang menghasilkan crowd behavior akan miliki keberanian semu yang mampu memicu keberanian kolektif lainnya."
"Mereka akan merasa sangat berani dan kuat, merasa benar, dan tanpa ragu melakukan suatu tindakan," katanya seraya menyebut lantaran mereka merasa akan didukung oleh kelompoknya dalam segala tindakannya.
Kemudian, kekalahan Arema dari Persebaya memicu para pendukungnya untuk menghasilkan perilaku crowd karena suporter telah menganggap tim sebagai identitas sosial atau konsep diri mereka.
"Ketika sesuatu terjadi atau menimpa timnya, seakan menyentuh harga diri atau sisi batin terdalam pendukungnya."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Suporter-Arema-FC-Aremania-turun-ke-lapangan-seusai-laga-Arema-FC-melawan-Persebaya.jpg)