Sejarah Bandung

Ternyata Ini Alasan Hari Jadi Kota Bandung Diperingati 25 September, Sosok Ini Sangat Berperan

Ini alasan Hari Jadi Kota Bandung diperingati tanggal 25 September. Bukan Daendles, ini sosok yang sangat berjasa.

Tribun Jabar/Cipta Permana
Pendopo Kota Bandung yang erat kaitannya dengan sejarah Kota Bandung. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Sekretaris Daerah Kota Bandung, Ema Sumarna membacakan sejarah singkat Kota Bandung dalam rapat paripurna memperingati Hari Jadi ke-212 Kota Bandung, Minggu (25/9/2022).

Menurutnya, sekitar akhir 1808 atau awal 1809, Bupati Bandung kala itu beserta sejumlah rakyatnya pindah dari Krapyak mendekati lahan bakal ibu kota baru.

Mula-mula, bupati tinggal di Cikalintu (daerah Cipaganti), kemudian pindah ke Balubur Hilir, selanjutnya pindah lagi ke Kampung Bogor (Kebon Kawung, pada lahan Gedung Pakuan sekarang).

"Bupati memimpin sejumlah rakyatnya, termasuk penduduk Kampung Balubur Hilir, membuka hutan pada lahan bakal ibu kota (daerah Cikapundung hilir)," katanya di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kota Bandung.

Tak diketahui secara pasti berapa lama Kota Bandung dibangun.

Namun, kota itu dibangun bukan atas prakarsa Daendels, melainkan atas prakarsa bupati Bandung, bahkan pembangunan kota itu dipimpin langsung oleh bupati.

Bupati RA Wiranatakusumah II adalah pendiri (The Founding Father) Kota Bandung.

"Kota Bandung tidak berdiri bersamaan dengan pembentukan Kabupaten Bandung. Kota itu dibangun dengan tenggang waktu sangat jauh setelah Kabupaten Bandung berdiri," katanya.

Kabupaten Bandung dibentuk pada sekitar pertengahan abad ke-17 Masehi, dengan Bupati pertama Tumenggung Wirangunangun.

Dia memerintah Kabupaten Bandung beribu kota di Krapyak (sekarang Dayeuhkolot), kira-kira 11 kilometer ke arah selatan dari pusat Kota Bandung sekarang. 

Ketika Kabupaten Bandung dipimpin oleh Bupati ke-6, yakni R.A. Wiranatakusumah II (1794-1829) yang dijiluki "Dalem Kaum", kekuasaan di Nusantara beralih dari Kompeni kepada Pemerintah Hindia Belanda, dengan Gubernur Jenderal pertama Herman Willem Daendels (1808-1811).

Untuk kelancaran menjalankan tugasnya di Pulau Jawa, Ema mengatakan Daendels membangun Jalan Raya Pos (Groote Poshweg) dari Anyer di ujung Jawa Barat ke Panarukan di ujung Jawa Timur (± 1.000 kilometer).

Pembangunan jalan raya itu dilakukan oleh rakyat pribumi di bawah pimpinan bupati daerah masing-masing.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved