Nelayan Pangandaran Keluhkan Cuaca Gelombang Tinggi dan Sulit Dapat Pertalite

Selain kondisi cuaca gelombang tinggi, kesulitan mencari bahan bakar minyak (BBM) petralite dirasakan nelayan di Pangandaran.

Penulis: Padna | Editor: Januar Pribadi Hamel
Tangkapan layar video FB live Tribun Jabar
Iis (52) juragan nelayan di Pantai Timur Pangandaran. 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna

TRIBUNJABAR.ID, PANGANDARAN - Selain kondisi cuaca gelombang tinggi, kesulitan mencari bahan bakar minyak (BBM) pertalite dirasakan nelayan di Pangandaran.

Di antaranya disampaikan Iis (52), satu juragan nelayan di Blok Lapang Ketapang doyong, Pantai timur Pangandaran.

Iis (52) menyampaikan, sulitnya mencari bahan bakar petralite untuk perahunya yang akan digunakan nelayan untuk melaut.

"Padahal, kita mau beli bukan mau ngutang. Jadi, susah harus pakai surat izin (dari Desa). Seperti kemarin, surat izin 1 bulan kalau sudah habis harus bikin lagi. Saya kan, bikin surat dari desa dan waktu digunakannya hanya 1 bulan," ujar Iis saat ditemui Tribunjabar.id di gudang ikan miliknya, Rabu (31/8/2022) siang.

Baca juga: Ombak Tinggi Melanda Pangandaran, Banyak Tempat Wisata yang Terdampak

Dalam satu hari, bahan bakar petralite bisa menghabiskan 40 sampai 50 liter untuk mesin perahunya.

"Satu hari saya bisa habis 50 liter, kadang 40 liter dan harus belanja bensin (petralite) lagi setiap hari," katanya.

Sedangkan penghasilan, kata Ia, saat ini masih belum bisa mencukupi. Jadi, repotnya nelayan disitu.

Sulitnya lagi, masalah saat mencari ikannya sekarang ini sedang susah karena kondisi cuaca yang sedang jelek.

"Cuaca kan, sekarang lagi jelek, jadi yang mau berangkat kadang ragu-ragu karena takut gelombang besar dan angin besar," ucap Iis.

Menurutnya, kalau berangkat ke laut mah pasti setiap 4 hari sekali juga mencoba berangkat, tapi kosong (tidak ada ikan).

"Terus, berhenti dulu karena buat beli bensinnya (petralite) sudah enggak ada. Kalau tidak ke laut tentu banyak yang nganggur, enggak kerja. Sedangkan, kalau makan kan harus terus," ujarnya.

Dan faktor tersebut, kata Ia, selain pada para nelayan tentu berpengaruh terhadap pendapatannya.

"Sebelumnya, kalau cuaca bagus mah agak lumayan, sekarang dapat Rp 1 juta, buat karyawan (nelayan) Rp 400 ribu dan Rp 600 ribu untuk operasional masih kurang," katanya.

Sementara untuk Ia sendiri, mengaku tidak kebagian karena biasanya kalau normal kadang dapat Rp 10 juta, Rp 8 juta dan Rp 5 juta.

"Tapi, sekarang ini sangat sepi dan sudah ada 15 hari mulai ada gelombang dan angin besar," ucap Iis. *

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved