Begini Cara Menciptakan Keluarga Merdeka Menurut Anggota DPRD Jabar Siti Muntamah

Anggota DPRD Jabar, Hj. Siti Muntamah Oded, S.AP., menyatakan perlunya menciptakan keluarga merdeka

dok Biro Adpim Jabar
Anggota DPRD Jabar Hj. Siti Muntamah Oded, S.Ap. 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Di dalam pembukaan Undang-undang Dasar 1945, dinyatakan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Ini tentu saja bukan semata-mata retorika. Melainkan jauh menuju kedalaman hakikat tentang makna merdeka itu sendiri.

Anggota DPRD Jabar, Hj. Siti Muntamah Oded, S.AP., menyatakan hari ini, bahkan menit ini, masih ada di antara orang tua bingung dengan hak pendidikan anak-anak.

Antara aturan, kecukupan skor nilai capaian, dan juga tertabatasnya finansial, berpadu menjadi sebuah ladang kecemasan.

Ketua Rumah Keluarga Indonesia Jawa Barat ini pun menyatakan masih ada sebagian ibu bekerja yang masih belum merdeka dari dilema menitipkan anak.

Antara tuntutan pekerjaan, kepada siapa yang paling tepat untuk menitipkan, dan tantangan teknologi yang telah begitu dekatnya di layar-layar smartphone.

"Hari ini. Hari di mana keserbamudahan itu terjadi, masih belum lepas dari yang namanya animali. Tingginya harga bahan dasar kebutuhan rumah tangga di tengah mendesaknya hak-hak dasar keluarga. Lagi dan lagi. Anomali harga menjajah mental keluarga," katanya di Bandung, Kamis (18/8).

Di mana ulang tahun kemerdekaan bangsa ini telah memasuki usia yang ke-77, sebuah usia yang bisa dibikang tua, katanya, tetapi dalam tuanya usia merdeka itu, masih banyak yang bertanya sudahkah menembus makna.

Sudahkah adil makmur secara merata. Sudahkah merdeka dari kewajaran harga-harga kebutuhan sehari-hari.

"Salah satu tugas besar kita adalah bagaimana kita menciptakan sebuah jaminan kemerdekaan untuk keluarga. Merdeka dari ancaman di antara sesama pasangan, merdeka dari tuntutan yang tak imbang terhadap anak-anak, merdeka dari keputusasaan nasib hak pendidikan," katanya.

Memang tak mudah, kata Siti, dan untuk menempuhnya semua pihak butuh bergandeng tangan alias berlolaborasi.

Untuk menempuhnya, butuh upaya-upaya berbasis keluarga.

Minimal, dengan mencontohkan hakikat merdeka itu di lingkungan keluarga sendiri.

"Kita semua butuh berpikir maju. Minimal kita optimistis dengan kondisi yang ada. Pantang menyerah layaknya seorang pejuang. Karena mental berdaya itu bermula dari kemandirian pikiran yang terbuka," tuturnya.

Ia mengatakan semua orang tua harus semampu mungkin berupaya bagaimana hak belajar anak-anak terpenuhi.

Libatkan diri dalam ruang diskusi dan informasi, sehingga bisa saling memenuhi jawaban atas kebingungan yang ada.

"Semangat bergandengan, ini adalah sebuah spirit kekeluargaan. Dengan cara berteman yang baik, bertetangga yang baik, berkomunitas yang baik, adalah bagian dari pundi-pundi energi yang menguatkan. Bahkan keberadaannya menjadi jalan rezeki tersendiri, sebagaimana konsep silaturahmi. Jadi, salah satu hakikat merdeka adalah dengan berkumpul bersama orang-orang yang berbudaya solusi," tuturnya.

"Salurkan dan ekspresikan. Pada poin ini, kita berlatih untuk menyampaikan atau menyalurkan suara hati kepada orang yang tepat. Tentang kungkungan yang ada, tentang sistem yang belum terjaga, tentang kenyamanan yang belum nyata. Semua disampaikan dengan adil kepada orang atau pihak yang life style-nya ingin memerdekakan," kata Siti.

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved