Persib Bandung
Robert Alberts Didesak Mundur, Ini Para Pelatih Asing Persib Bandung Sebelumnya, Semuanya Tak Lama
Posisi Robert Alberts sebagai pelatih Persib Bandung mulai digoyang setelah tak mampu membawa Maung Bandung menang di dua laga awal Liga 1 2022/2023.
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pelatih Persib Bandung Robert Albets tengah menjadi sorotan.
Ia dikritik karena gagal membawa Maung Bandung menang di dua laga perdana Liga 1 2022/2023.
Desakan mundur pun berkumandang dari sebagian bobotoh Persib.
Akankah kiprah Robert Alberts terhenti di tengah jalan seperti pelatih asing pendahulu-pendahulunya?
Persib memang seolah mendapat kutukan ketika ditangani oleh pelatih asing di era Liga Indonesia.
Sejak menggunakan pelatih asing pada musim 2003, tak ada satupun yang berakhir sukses.
Sudah 10 pelatih asing yang didatangkan oleh manajemen Persib Bandung untuk meraih gelar juara.
Mulai dari Marek Andrzej Sledzianowski, Juan Antonio Paez, Arcan Iurie Anatolievichi, Darko Janackovic, Jovo Cuckovic, Drago Mamic, Dejan Antonic, Mario Gomez, hingga Miljan Radovic.
Semua pelatih itu harus mengalami nasib yang buruk, entah itu dipecat atau mengundurkan diri karena didesak bobotoh atau ada konflik dengan manajemen.
Baca juga: Nasib Robert Alberts Setelah Persib Dipermak Madura, Mulai Digoyang Bobotoh, Dilihat Sampai 4 Laga
Sehingga ketika Persib Bandung akan menggunakan jasa pelatih asing, bayang-bayang akan kegagalan sudah terasa bahkan sebelum Persib berkompetisi.
Persib justru bisa berhasil meraih dua gelar juara Liga Indonesia di tangan pelatih lokal. Indra Thohir dan Djajang Nurdjman justru yang mempersembahkan gelar juara Liga Indonesia pada musim 1994/1995 dan 2014.
Saat ini, Persib dinakhodai oleh pelatih sarat pengalaman, Robert Alberts. Dia datang ke Persib pada musim 2019 dengan CV mentereng.
Menjadi juara Liga Indonesia pada musim 2009/2010 bersama Arema Indonesia dan membuat PSM Makassar menjadi kesebelasan yang kembali disegani dalam beberapa tahun terakhir.
Robert lahir di Amsterdam, Belanda pada 14 November 1954. Dia memulai karier sebagai pesepak bola tatkala berhasil masuk ke akademi Ajax Amsterdam pada 1966.
Tidak mendapat tempat di skuat senior Ajax, Robert memutuskan hijrah ke Liga Amerika Serikat untuk bermain di Vancouver Whitecaps. Di sana, Robert bermain dari 1975 hingga 1976.
Satu tahun berselang atau tepatnya 1977, Robert kembali ke Eropa dengan bermain untuk Clermont Foot yang berlaga di Liga Perancis.
Di sana Robert Alberts tak bertahan lama dan melanjutkan kariernya di Råå IF yang berkompetisi di Liga Swedia.
Puncak karier sebagai pemain sepak bola profesional terjadi tatkala Robert memperkuat Hittarps IK di divisi dua Liga Swedia. Di sana dia sempat meraih beberapa trofi dan menjadi titik awal mulai melatih.
Di Hittarps IK, Robert selain bermain sempat menjadi pelatih saat usianya 30 tahun. Barulah di musim kedua, dia benar-benar bekerja sebagai pelatih.
Kendati tak meraih gelar juara, Robert mendapat apresiasi dari manajemen Hittarps IK karena berhasil meningkatkan kemampuan pemain melalui metode latihannya.
Setelah melatih Hittarps IK pada tahun 1984-1987, Robert memutuskan pindah ke tim Liga Swedia lainnya, Astorps IK.
Di sana, Robert semakin terasah kemampuan melatihnya hingga memberanikan diri terbang ke benua Asia.
Klub Asia pertama Robert adalah Kedah FA yang ia latih dari musim 1992-1995. Setelahnya, Robert hijrah ke Singapura dengan melatih beberapa klub seperti Tanjong Pagar (1996-1998) dan Home United 1999.
Di Home United, Robert sukses meraih gelar juara Liga Singapura. Lebih spesialnya lagi, Robert kala itu menjadi juara tanpa satu kali pun menelan kekalahan.
Panggilan untuk melatih Timnas pun mulai berdatangan untuk Robert. Mulai dari Timnas Korea Selatan U-19 (2002-2004) hingga Timnas Malaysia U-19 (2007).
Lalu dia pun pernah menjadi Direktur Teknik Football Association of Malaysia (FAM) (2005-2008).

Bertahun-tahun di Malaysia, Robert mendapat tawaran untuk melatih klub di Indonesia pada musim 2009/2010. Menurut pengakuannya, dia sebenarnya ditawari untuk melatih Persija Jakarta.
Namun pada akhirnya, Arema Indonesia-lah yang menjadi klub pertamanya di Indonesia. Di tim berjuluk Singo Edan itu, dia langsung menggebrak dengan menjadi juara Indonesia Super League (ISL), 2009/2010.
Setelah membawa Arema menjadi juara, nama Robert semakin disegani di sepak bola Indonesia. Beberapa tim pun tertarik untuk mendatangkan Robert, termasuk Persib.
Namun setelah melanglangbuana ke berbagai tim, Persib akhirnya berhasil mendapat tanda tangan Robert pada musim 2019. Kala itu, Robert menggantikan posisi Miljan Radovic yang diberhentikan satu pekan sebelum Liga 1 2019 dimulai.
Musim perdana Robert di Persib memang tidak berakhir cukup baik. Persib sempat terseok-seok di putaran pertama. Robert beralasan, pemain yang ada saat itu bukan keinginannya.
Setelah melalui putaran kedua di posisi 10, Robert melakukan perubahan di posisi pemain asing. Dianggap tidak optimal, Persib melepas Rene Mihelic, Artur Gevorkyan, dan Bojan Malisic.
Sebagai gantinya, Robert mendatangkan Omid Nazari, Kevin Van Kippersluis, dan Nick Kuipers. Ketiganya sukses membawa Persib finish di urutan ke enam.
Di Liga 1 2020, Robert benar-benar mendapat keleluasaan untuk merekrut pemain. Beberapa pemain penting pun didatangkan Robert untuk menjalankan starategi yang diinginkannya.
Alhasil, Persib berhasil meraih tiga kemenangan dari tiga pertandingan sebelum akhirnya Liga 1 2020 dihentikan karena alasam pandemi Covid-19.
"Kami membuat janji hari ini bahwa ketika liga berjalan kembali, hadiah terindahnya adalah memenangi liga. Mari kita lihat sejauh mana kami bisa melaju di turnamen yang akan dimulai dalam waktu dekat," ucapnya di tahun 2021.
Namun pada akhirnya Persib Bandung hanya finis di posisi dua di ajang Piala Menpora 2021 dan Liga 1 2021/2022.
Akankah kini Robert Alberts bisa membawa Maung Bandung bangkit atau ia kiprahnya terhenti sebelum kontraknya berakhir?
Baca juga: Bobotoh DESAK Robert Alberts Mundur, 2 Pertandingan Lagi Jadi Penentu Nasibnya di Persib Bandung