Reshuffle Kabinet Jokowi
Apa Pertimbangan Jokowi Tunjuk Zulkifli Hasan dan Hadi Tjahjanto Jadi Menteri? Ini Kata Pengamat
Pengamat politik Unpad, Firman Manan mengatakan, ada beberapa pertimbangan mengapa Jokowi akhirnya memilih nama-nama tersebut.
Penulis: Nazmi Abdurrahman | Editor: Seli Andina Miranti
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nazmi Abdurahman
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Zulkifli Hasan dan Hadi Tjahjanto resmi menjadi menteri di kabinet Indonesia maju.
Zulkifli Hasan dilantik menjadi Menteri Perdagangan, sedangkan Panglima TNI Hadi Tjahjanto, sebagai Menteri ATR/BPN.
Selain kedua nama tersebut, Jokowi juga melantik Dewan Pembina PSI, Raja Juli Antoni sebagai Wakil Menteri ATR /BPN, John Wempi Wetipo, sebagai Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) dan Sekjen PBB, Afriansyah Noor sebagai Wakil Menteri Tenaga Kerja (Wamenaker)
Pengamat politik Unpad, Firman Manan mengatakan, ada beberapa pertimbangan mengapa Presiden Joko Widodo akhirnya memilih nama-nama tersebut.
Baca juga: Pengamat Nilai Ini 3 Pertimbangan Presiden Jokowi Reshuffle Kabinet, Termasuk Stabilitas sampai 2024
"Kalau Menteri ATR itu kan terkait dengan program prioritas inftastruktur termasuk IKN, kalau kita tahu problem Soyan Djalil itukan kelihatannya agak kurang optimal dan memang pertanahan itu agak rumit," ujar Firman, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (15/6/2022).
Hadi, kata dia, ditunjuk menjadi Menteri karena secara personal dengan Presiden. Bahkan, sejak saat keduanya bertugas di Solo.
"Waktu Presiden menjadi Wali Kota, beliaukan (Hadi) menjadi Danlanud, sempat menjadi Sekmil, KSAU dan Panglima juga tentu tidak terlepas dari kedekatan personal. Pertimbangan itu menurut saya kenapa Pak Hadi yang dipilih," katanya.
Terkait apakah tepat atau tidak, pihaknya menilai bisa saja tepat lantaran keduanya memiliki kedekatan personal.
"Kalau soal tepat atau tidak, saya melihat karakter ketegasan dan kedekatannya yang kemudian menjamin proyek infrastruktur terkait dengan pertanahan," katanya.
Sementara Zulkifli Hasan, kata dia, menarik lantaran bakal menjadi tantangan sendiri bagi Zulhas.
Kemendag ini, kata dia, persoalannya besar. Ia mencontohkan soal minyak goreng yang sempat langka.
"Kita melihat backgroundnya pak Zulhas tidak di situ yah, dulu sempat jadi menteri, itu juga Menteri Kehutanan era SBY, jadi kita tidak melihat track record yang terkait diperdagangan, ini jadi tantangan bagi Zulhas dan Presiden," ucapnya.
Baca juga: Sosok Marsekal (purn) Hadi Tjahjanto, Eks Panglima TNI Disebut akan Gabung di Kabinet Indonesia Maju
"Kemendag ini yang perlu dilihat ke depan, karena tantangannya yang besar untuk menyelesaikan masalah," tambahnya.
Resuffle ini, kata dia, terbatas dan tidak seperti dugaan banyak orang. Jokowi, kata dia, melalukan resuffle ini dengan aman, tanpa mengganggu posisi lain. Ia menduga bahwa resuffle ini pun ada kepentingan untuk pesta politik 2024.
"Ya, ada kemungkinan seperti itu (persiapan 2024) memang Presiden sudah tidak bisa maju lagi, tetapikan bisa saja Presiden punya preferensi terhadap kandidat tertentu. Tentu akan lebih mudah berkomunikasi dalam konteks persiapan 2024 itu dengan seluruh partai koalisi karena mereka sudah nyaman mendapatkan kursi di kabinet, kalau saya melihatnya ke sana," katanya.