Epidemiolog Tegaskan Pandemi Covid-19 Belum Berakhir, Masyarakat Dilarang Abai

Tidak boleh euforia, karena semakin jelas fase saat ini, Covid-19 memberikan dampak tidak langsung yang dapat menyebabkan kematian.

Editor: Ravianto
National Institutes of Health/AFP
Virus Corona varian Delta turunan AY.4.2 yang membuat Inggris dibanjiri kasus positif Covid-19 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Epidemiolog Griffith University Dicky Budiman menyebutkan jika pandemi Covid-19 belum berakhir. 

Menurutnya ada satu hal yang harus dipahami dalam situasi saat ini.

Yaitu menghadapi Covid-19 ini harus sangat serius dan tidak boleh abai. 

Tidak boleh euforia, karena semakin jelas fase saat ini, Covid-19 memberikan dampak tidak langsung yang dapat menyebabkan kematian.

"Tidak serta merta langsung rumah sakit. Bukan direct lagi, tapi indirect. Karena semakin banyak orang memiliki imunitas tapi masih abai. Dan ternyata dampak dari Covid-19 ini tidak berhenti di situ," ungkapnya pada Tribunnews, Minggu (8/4/2022).

Menurut Dicky, ini yang harus diwaspadai dan dimitigasi.

Selain itu dampak secara global, WHO sudah menyatakan selama dua tahun pandemi, telah terjadi 15 juta kematian.

Kasus ini bisa jauh lebih banyak dari yang dilaporkan negara.

"Bahkan sebagai contoh angka kematian India sudah hampir mendekati 5 juta. Ini jauh berkali lipat yang dilaporkan pemerintah. Ini yang harus disadari kita semua. Pandemi belum selesai, tidak boleh abai," tegasnya.

Banyak dampak secara tidak langsung yang dirasakan dan dapat menjadi beban panjang pada fasilitas kesehatan negara.

Hepatitis mungkin menjadi salah satu contohnya. 

"Oleh karena itu kewaspadaan, program protokol kesehatan, testing, treacing dan treatment serta vaksinasi. Semuanya menjadi upaya kita bersama untuk mencegah dampak lebih lanjut," pungkasnya.(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved