Minggu, 19 April 2026

Hari Kartini, Siti Muntamah Oded Ajak Perempuan Menjadi Kartini Keluarga dan Kartini Sosial

Pada 21 April menjadi hari saat rata-rata orang memahami, memaknai, atau mendifinisikan sebagai patok emansipasi.

Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Giri
Ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga DPW PKS Jabar, Hj. Siti Muntamah Oded, S.Ap. 

Laporan Wartawan TribunJabar.id, Muhamad Syarif Abdussalam

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pada 10 hari terakhir bulan suci Ramadan di tahun 1443 Hijriah ini bertepatan dengan sebuah penanggalan monumental Hari Kartini.

Pada 21 April menjadi hari saat rata-rata orang memahami, memaknai, atau mendifinisikan sebagai patok emansipasi

Ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga DPW PKS Jabar, Hj. Siti Muntamah Oded, S.Ap, mengatakan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dinyatakan bahwa emansipasi adalah pembebasan dari perbudakan, persamaan hak dalam berbagai kehidupan masyarakat, seperti persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria. 

"Namun penting untuk kita telaah lebih dalam bahwa persamaan hak tidak kemudian ditafsirkan sebagai sebuah kebebasan tanpa norma," kata anggota Komisi V DPRD Jabar tersebut melalui ponsel, Kamis (21/4/2022).

Dalam mengenali Kartini, kata perempuan yang akrab disapa Ummi Oded ini, kita harus mengakrabi substansinya.

Penting untuk kita maknai bersama bahwa salah satu nilai perjuangan seorang Kartini adalah melek alias awas alias mampu merespons. 

"Melek terhadap apa? Pertama, melek terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, kemudian melek terhadap kebutuhan zaman, dan melek terhadap ruang kosong untuk diisi dengan kontribusi," katanya.

Ia mengatakan, memang spirit Kartini itu adalah melek.

Satu di antaranya, melek terhadap fenomena tentang hak pendidikan untuk perempuan. Bagaimana beliau mengafirmasi harapannya untuk bisa sekolah, untuk dapat membaca sebagaimana mestinya, untuk menikmati kursus-kursus keterampilan sebagai bekal kehidupan.

Artinya, spirit Kartini tidak sepragmatis persoalan sejajarnya kaum perempuan dan kaum laki-laki.

Karena bila kita tafakuri, dengan adanya perbedaan gender yang telah Allah takdirkan kepada manusia, hal demikian telah diikuti dengan fitrahnya yang yang berbeda.

Oleh karena, kata Siti, ada satu substansi yang kadang-kadang terlupakan dari kemelekatan perjuangan Kartini, yaitu pendidikan.

Bagaimana Kartini menjadikan pendidikan sebagai jantung peradaban. 

"Karena berdayanya seorang perempuan pun disokong oleh pendidikan. Terlepas, apakah pendidikan formal maupun nonformal. Bagaimana seorang perempuan dengan berbekal pendidikan, tahu dan dan menerapkan terkait dengan bagaimana caranya berbicara yang baik dan benar, tentang  bagaimana cara berpakaian yang santun, tentang bagaimana bersikap yang semestinya," katanya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved