Adhikarya Parlemen

Ramadhan Sebagai Bulan Literasi Bagi Umat Islam

Menjadikan Ramadhan sebagai bulan literasi didasarkan pada dua hal. Pertama, pada Bulan Ramadhan umat Islam memperingati peristiwa turunnya Al-Quran

TRIBUNJABAR.ID/MUHAMAD SYARIF ABDUSSALAM
Kegiatan Anggota Komisi I DPRD Jawa Barat H. Syahrir, SE., M.Ipol., di Bulan Suci Ramadhan dengan Pembuatan Sumur Bor Dalam di Desa Sukaringin, Kecamatan Sukawangi, Kabupaten Bekasi. 

Oleh: H. Syahrir, SE., M.Ipol

Anggota Komisi I DPRD Provinsi Jawa Barat

Ketua Dewan Pembina GLN (Gerakan Literasi Nasional) Gareulis Jawa Barat 

BANDUNG - Selain menjadi waktu untuk melaksanakan ibadah puasa dan meningkatkan ibadah lainnya, Bulan Suci Ramadhan menjadi momentum bagi umat Islam sedunia untuk meningkatkan berbagai ilmu pengetahuannya melalui berbagai kajian dan upaya menuntut ilmu.


Menjadikan Ramadhan sebagai bulan literasi didasarkan pada dua hal. Pertama, pada Bulan Suci Ramadhan umat Islam memperingati peristiwa turunnya Al-Qur’an atau Nuzulul Quran, di mana wahyu pertama kali yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW saat itu adalah surat Al-‘Alaq 1-5.

Dalam surat tersebut terdapat pesan untuk membaca (iqra’) dan menulis yang dilambangkan dengan pena (qalam). 


Setiap Bulan Ramadhan umat muslim lebih banyak meluangkan waktu untuk membaca (tadarus) atau mengaji Al- Qur’an bersama-sama dengan lebih intens dibandingkan bulan yang lain. 


Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al-Quran maka ia akan mendapat satu kebaikan dan dari satu kebaikan itu berlipat menjadi sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan alif lam mim sebagai satu huruf. Akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (HR. Bukhari). 


Membaca Al-Quran pun dapat menenangkan hati dan pikiran. Semakin rajin membaca Al-Quran, maka semakin dekat dengan Allah SWT, semakin jiwa tersadarkan dengan keajaiban Al-Quran, dengan keindahan bahasa dan muatannya, hal ini dapat menambah keimanan kepada Allah SWT. 


Membaca Alquran dapat mendatangkan kebaikan dan kemuliaan pada hari kiamat serta Allah SWT akan mengangkat derajat orang-orang yang mengamalkannya.


Kedua, pada Bulan Ramadhan, setelah umat muslim mengalami kemenangan dalam perang Bad’r, Nabi Muhammad SAW membuat sebuah kebijakan dengan memerintahkan tawanan perang untuk mengajari anak-anak membaca dan menulis sebagai syarat kebebasan. 


Kebijakan Rasulullah SAW itu kemudian melahirkan para penulis wahyu, pada awalnya hanya Al-Quran yang boleh ditulis, kemudian pada langkah selanjutnya hadits-hadits Nabi Muhammad SAW juga mulai ditulis, sehingga lahirlah sebuah shahifah atau lembaran-lembaran tulisan yang berisi hadits yang ditulis pada zaman Rasulullah SAW


Shahifah dikenal dengan As-Shahifah As Shadiqah. Dalam Islam, kedua sumber pokok ajaran ini tidak hanya diyakini sebagai panduan atau petunjuk dalam kehidupan beragama tetapi juga sebuah landasan inspirasi dalam membangun kemampuan literasi umat Islam. (*) 


Wallahu ‘Alam Bishoab.

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved