Senin, 13 April 2026

Tabuh Dlugdag, Tradisi di Keraton Kasepuhan Cirebon dalam Menyambut Ramadan

Sejumlah orang terlihat bergegas berjalan dari Dalem Arum Keraton Kasepuhan menuju Langgar Agung yang berada persis di depan Museum Benda Pusaka, Sabt

Penulis: Ahmad Imam Baehaqi | Editor: Mega Nugraha

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ahmad Imam Baehaqi

TRIBUNJABAR.ID CIREBON - Sejumlah orang terlihat bergegas berjalan dari Dalem Arum Keraton Kasepuhan menuju Langgar Agung yang berada persis di depan Museum Benda Pusaka, Sabtu (2/4/2022).

Kedatangan mereka tampak mengubah suasana Keraton Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, yang semula hening seketika menjadi ramai.

Setibanya di Langgar Agung, rombongan yang dipimpin Patih Sepuh Keraton Kasepuhan, PR Gumelar Suryadiningrat, langsung menuju Beduk Samogiri yang berada di sisi kiri Langgar Agung.

Selanjutnya Gumelar tampak mengawali untuk menabuh beduk tersebut usai merapalkan doa-doa, kemudian bergantian dengan lainnya.

Beduk Samogiri tersebut terlihat dipukul secara bergantian oleh beberapa orang dengan irama dan tempo yang berbeda-beda.

Patih Gumelar mengatakan, rangkaian tersebut merupakan tradisi tabuh dlugdag untuk menyambut datangnya Ramadan yang berlangsung sejak ratusan tahun silam.

"Dlugdag ini sebagai pemberitahuan kepada masyarakat bahwa nanti malam mulai salat tarawih," ujar Gumelar Suryadiningrat saat ditemui usai kegiatan.

Ia mengatakan, pada masa lalu belum ada teknologi pengeras suara sehingga tabuh dlugdag menjadi sarana pemberitahuan yang efektif bagi masyarakat.

Tradisi tabuh dlugdag tersebut juga merupakan warisan sejak era Sunan Gunung Jati selaku Sultan Cirebon yang pertama.

Bahkan, irama dan ketukan saat tabuh dlugdag juga mempunyai makna tersendiri sehingga seperti melantunkan zikir ataupun selawat.

"Bunyi beduk saat ditabuh jika diperhatikan seksama seperti sedang membaca kalimat tauhid dan selawat Nabi Muhammad Saw," kata Gumelar Suryadiningrat.

Gumelar menyampaikan, di tengah pandemi Covid-19 pelaksanaan tabuh dlugdag tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.

Sejak pandemi melanda dua tahun lalu tradisi tersebut hanya diikuti oleh keluarga keraton dan beberapa abdi dalem.

Padahal, biasanya melibatkan abdi dalem dan masyarakat sekitar keraton juga turut berkumpul melihat tabuh dlugdag di Langgar Agung.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved