Dinkes Sumedang Berharap Peran Serta Masyarakat Cegah DBD, Andalkan Nakes Tak Akan Mampu
Meski kasusnya diprediksi melandai, masyarakat tetap diminta waspada. Kewaspadaan masyarakat adalah kunci dalam pencegahan kasus DBD
Penulis: Kiki Andriana | Editor: Seli Andina Miranti
Laporan Kontributor TribunJabar.id Sumedang, Kiki Andriana
TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Sumedang menjadi ancaman terutama di musim-musim penghujan seperti sekarang ini. Meski kasusnya diprediksi melandai, masyarakat tetap diminta waspada.
Kewaspadaan masyarakat adalah kunci dalam pencegahan kasus DBD. Menurut Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, Aep Dadang Hamdani, tanpa peran serta masyarakat, pencegahan DBD sangat sulit dilakukan.
"DBD itu sebetulnya mutlak diperlukan keaktifan dari masyarakat. Walau semua nakes (tenaga kesehatan) turun tangan, tanpa bantuan masyarakat akan sulit DBD dicegah," kata Aep Dadang kepada TribunJabar.id melalui sambungan telepon, Kamis (24/3/2022).
Baca juga: Musim Hujan Masih Berlangsung, Dinkes Kota Bandung Wanti-wanti Warga Soal DBD, Lakukan Tiga Hal Ini
Masyarakat harus tetap memperhatikan lingkungan sekitar tempat mereka tinggal.
Genangan-genangan air yang seringkali menjadi tempat nyamuk pembawa virus DBD bersarang dan bertelur, harus dihilangkan.
Pemberantasan sarang nyamuk bisa dilakukan dengan menguras, mengubur, atau menutup tampungan-tampungan air itu. Aktivitas ini akrab dengan sebutan 3M.
"Pemberantasan sarang nyamu, masyarakat aktif melaksanakan itu. Dibantu Desa, Kecamatan, dan elemen lainnya,"
"Gerakannya bisa dinamakan apa saja yang penting tujuannya lingkungan bersih, bisa Jumat bersih alias Jumsih, dan sebagainya," kata Aep.
Kasus DBD di Sumedang melandai pada Maret ini. Siklus per tahun, kenaikan angka kasus DBD terjadi pada akhir tahun dan melandai kembali pada Maret.
Di tahun 2022, Dinkes Sumedang mencatat ada 347 kasus di bulan Januari dengan angka kematian 7 orang.
Baca juga: WASPADA DBD, Korban Meninggal di Kota Tasikmalaya Sudah 5 Orang, Kasusnya Melonjak
Pada Februari, kasusnya menurun menjadi 228 kasus, dengan angka kematian 1 orang.
"Selain bersih-bersih lingkungan, masyarakat juga bisa mengajukan fogging. Namun, fogging baru bisa dilaksanakan jika lingkungan yang dilapirkan sudah dicek oleh tim ahli epidemiologi,"
"Fogging harus memenuhi syarat itu. Baru nanti Puskesmas setempat yang melaksanakannya, didorong dengan biaya dari Dinkes juga obat-obatan," katanya.