Rusia Ingatkan Media, Operasi Militer ke Ukraina Bukan Perang Atau Invasi
Pemerintah Rusia mengkritik media yang salah mengartikan tindakan negara yang dipimpin Vladimir Putin itu ke Ukraina sejak Kamis 24 Februari 2022.
TRIBUNJABAR.ID- Pemerintah Rusia mengkritik media yang salah mengartikan tindakan negara yang dipimpin Vladimir Putin itu ke Ukraina sejak Kamis 24 Februari 2022.
Pemerintah Rusia melalui lembaga pengawas penyiaran Rusia, Roskomnadzor menyebut, tindakan Rusia ke Ukraina bukan deklarasi perang, invasi atau serangan.
Dilansir dari AFP melalui Kompas.com, Roskomdadzor menyebut sejumlah media termasuk saluran TV Dozhd dan radio Echo of Moskow menyebarkan informasi yang tidak dapat diandalkan.
Menurut lembaga pengawas penyiaran Rusia itu, media tersebut memberitakan serangan dan penembakan oleh militer Rusia ke sejumlah kota di Ukraina dan laporan soal warga sipil yang tewas.
Baca juga: Chechnya Negara Federasi Rusia yang Mayoritas Muslim Siap Bantu Putin Operasi Militer di Ukraina
Dilansir dari Aljazeera, Roskamnadzor menyebut, ada 10 media lokal yang mendistribusikan informasi palsu tentang peristiwa disana.
Roskamnadzor mendesak media untuk hapus laporan yang menggambarkan serangkan militer Rusia ke Ukraina sebagai serangan, invasi atau deklarasi perang.
Menurut Roskamnadzor, kata yang tepat untuk tindakan yang dilakukan militer Rusia di Ukraina sebagai pperasi militer khusus, seperti dilansir AFP.
Facebook Bereaksi
Di tengah memanasnya operasi militer khusus Rusia ke Ukraina, Facebook membatasi media pemerintah Rusia untuk memonetisasi di platform media sosial.
“Kami sekarang melarang media pemerintah Rusia menjalankan iklan atau memonetisasi di platform kami di mana pun di dunia,” kata Kepala Kebijakan Keamanan Facebook Nathaniel Gleicher di Twitter, Jumat (25/2/2022).
Tak tanggung-tanggung, Facebook memberikan label tambahan ke media pemerintah Rusia. Selama operasi militer Rusia di Ukraina, jaringan media sosial jadi salah satu front penyebaran informasi Moskow dalam invasinya ke Ukraina.
Perusahaan induk Facebook, Meta, mengumumkan bahwa Rusia memerintahkan untuk menghentikan fact-checking atau pemeriksaan fakta serta pelabelan konten.
“Kemarin, pihak berwenang Rusia memerintahkan kami untuk menghentikan pemeriksaan fakta independen dan pelabelan konten yang diposting di Facebook oleh empat organisasi media milik negara Rusia,” kata Nick Clegg dari Meta.
“Kami menolak.” Gleicher mengatakan, Facebook telah mendirikan pusat operasi khusus untuk memantau situasi di Ukraina sebagai tanggapan atas konflik militer yang sedang berlangsung.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/kursus-singkat-senjata-ukraina.jpg)