Kasus Subang Bikin Pilu, Balita 2 Tahun Derita Tumor Tak Bisa BAB Tinggal di Gubuk Reyot
Kasus Subang kali ini, nasib pilu balita berusia dua tahun asal Taman Hutan Ranggawulung, Kelurahan Cigadung, Kecamatan Subang Kota, Kabupaten Subang
Penulis: Dwiky Maulana Vellayati | Editor: Mega Nugraha
Laporan Kontributor Tribunjabar.id Subang, Dwiky Maulana Vellayati.
TRIBUNJABAR.ID, SUBANG - Kasus Subang kali ini, nasib pilu balita berusia dua tahun asal Taman Hutan Ranggawulung, Kelurahan Cigadung, Kecamatan Subang Kota, Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Pasalnya, anak yang bernama Rahmat Hidayat (2) balita laki-laki itu menderita penyakit teratoma atau biasa disebut dengan penyakit tumor yang biasa tumbuh pada tubuh manusia.
Rahmat merupakan anak keempat dari empat bersaudara pasangan Warja (38) dan Ayu Yuliani (31).
Menurut keterangan Ayu, ibu Rahmat Hidayat, penderitaan anaknya sudah dirasakan sejak Rahmat baru lahir di dunia.
Akibat penyakit yang dideritanya, Rahmat menangis setiap hari karena harus menahan sakit karena selalu bermasalah dengan pencernaan dan membuat perut dari sang anak membesar.
"Penyakitnya sudah dari lahir ini hampir dua tahun kondisinya begini, sering mengalami kesakitan, sama gak bisa ngeluarin angin dari anusnya atau BAB," ucap Ayu kepada TribunJabar.id, Jumat (25/2/2022).
Dengan alasan dengan keterbatasan biaya membuat orang tua Rahmat tidak sanggup untuk mengobati anaknya.
Menurut Ayu, untuk mengobati penyakit teratoma harus menjalani operasi yang menelan biaya hingga 45 juta rupiah.
"Tidak ada biayanya pak, ya pengobatannya paling sederhana hanya menggunakan minyak kayu putih sama minyak telon aja," katanya.
Selain itu juga, penderitaan dari keluarga Warja serta Ayu juga dirasakan mereka yang dimana kini tinggal di sebuah gubuk reyot berukuran 3X7 meter persegi serta keterbatasaan ekonomi yang sangat tidak mampu.
Sang ayah dari bocah itu pun hanya memiliki pekerjaan buruh serabutan yang dimana penghasilannya tidak menentu.
Ayu sempat pernah membawa Rahmat ke RSUD Subang, bahkan dokter menyarankan untuk dirawat.
Melihat dengan kondisi memprihatinkan tersebut, Kepala Dinas Kesehatan dr. Maxi akan menjamin bantuan pengobatan dari Rahmat hingga sembuh akan dilakukan.
"Yang jelas kami bertugas untuk membawa dede ini untuk dibawa ke rumah sakit yang terbaik lah yah, tapi kita juga masih menunggu berkas-berkas dari pihak keluarga terutama BPJS kesehatan," ujar Maxi.