Ridwan Kamil Sebut Jabar Sudah Masuki Gelombang 3 Covid-19, Begini Kondisi yang Terjadi
Gubernur Jabar Ridwan Kamil menyebut Jabar sudah memasuki gelombang ketiga pandemi Covid-19 seiring dengan lonjakan kasus Covid-19 sejak awal Januari.
Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Mega Nugraha
Laporan Wartawan TribunJabar.id, Muhamad Syarif Abdussalam
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Gubernur Jabar Ridwan Kamil menyebut Jabar sudah memasuki gelombang ketiga Covid-19 seiring dengan lonjakan kasus Covid-19 sejak awal Januari.
Angka kasus Covid-19 di Jabar meningkat drastis sejak awal Januari 2022. Data Kementerian Kesehatan RI menyatakan, per 1 Januari 2022 tercatat 532 kasus aktif Covid-19. pada 7 Februari 2022 angkanya sudah membengkak jadi 56.349 kasus aktif di Jawa Barat.
"Kita sudah memasuki gelombang ketiga Omicron seperti tadi dirapatkan khusus, Bodebek dan Bandung Raya karena kecepatan tinggi dalam sebulan dari 500 ke 50 ribu itu, harus disikapi yang paling utama untuk daerah di luar aglomerasi agar prokes diketatkan," katanya di Gedung Pakuan, Senin (7/2).
Meski memasuki gelombang ketiga Covid-19, namun kondisinya tak separah saat terjadi gelombang dua saat ada lonjakan kasus kematian. Secara keseluruhan, peningkatan keterisian tempat tidur perawatan pasien Covid-19 atau bed occupancy rate (BOR) di rumah sakit di Jabar mencapai 33,58 persen, atau terisi 2.864 dari total 8.530 tempat tidur yang tersedia di 323 rumah sakit per 6 Februari 2022.
Baca juga: PPKM Level 3 Akan Diterapkan di Jabodetabek hingga Bandung Raya, Ini Penjelasan Pemerintah
BOR Covid-19 ini terbilang naik drastis mengingat pada 22 Januari 2022, keterisiannya baru 6,65 persen atau terisi 448 dari 6.740 tempat tidur yang tersedia.
Namun demikian, keterisian rumah sakit di Jabar ini tidak setinggi saat varian Delta merebak pertengahan tahun lalu.
Sebelumnya sempat menembus 91,6 persen pada 28 Juni 2021, sementara pada 14 Juli 2021 tercatat 83,32 persen dengan rician 15.946 tempat tidur terisi dari 19.138 tempat tidur yang tersedia.
"Jadi awal Februari 2021 dengan awal Februari 2022. Kasusnya sama tinggi kayak Depok dan Bekasi per hari sudah sama kayak Delta. Tapi rumah sakit keterisian tahun lalu saat Delta tinggi, dengan keterisian saat Omicron tinggi di dua daerah itu jauh. Jadi artinya ini menguatkan bahwa Omicron itu daya tularnya cepat tapi daya fatalitas rendah. Oleh karena itu fokus saja di rumah insya Allah sembuh," katanya.
Ia mengatakan kebanyakan yang dirawat di rumah sakit adalah yang belum pernah mendapat vaksinasi Covid-19.
"Bahwa kasus tinggi iya bikin khawatir, tapi yang dirawat rendah. Itu juga berita baiknya dari sisi bahwa kita benteng pertahanan baik. Mayoritas yang kena fatalitas yang belum divaksin dua kali. Bahwa masih nembus ke yang sudah divaksin iya, tapi fatalitas banyak kepada mereka yang belum divaksin dua kali," katanya.
Mengenai keterisian rumah sakit, katanya, kalau sudah menembus di atas 40 persen, sudah waktunya untuk menambah jumlah tempat tidur khusus pasien Covid-19 di rumah sakit atau ruang-ruang isolasi non rumah sakit.
Pusat Informasi dan Koordinasi Covid-19 Jawa Barat menyatakan per 7 Februari 2022 terdapat 56.349 kasus aktif Covid-19 atau di Jabar. Mereka masih menjalani perawatan di rumah sakit atau isolasi mandiri di pusat isolasi dan rumah.
Terdapat peningkatan penambahan kasus harian sejak 1 Februari 2022, secara berurutan bertambah 4.249 kasus, selanjutnya bertambah 3.739 kasus, 7.308 kasus, 7.690 kasus, 8.053 kasus, 6 Februari 2022 bertambah 7.603 kasus, dan 7 Februari 2022 bertambah 5.074 kasus.
Walaupun terjadi peningkatan kasus aktif, angka kematian akibat Covid-19 di Jabar tergolong rendah jika dibandingkan dengan gelombang kedua Covid-19 saat varian Delta merajalela. Dalam periode 1-7 Februari 2022, tercatat penambahan 16 kasus kematian akibat Covid-19.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/emil-zulhas.jpg)