Sabtu, 25 April 2026

Menurut BPOM, Ini Efek Samping yang Dialami Penerima Vaksin Covid-19 Booster Sinopharm

Beberapa orang merasakan efek samping setelah mendapat vaksin Covid-19 ketiga atau booster.

Editor: Giri
freepik
Ilustrasi vaksin Covi-19 - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pun membeberkan terkait efek samping yang dialami penerima setelah mendapatkan vaksin booster Sinopharm. 

TRIBUNJABAR.ID - Beberapa orang merasakan efek samping setelah mendapat vaksin Covid-19 ketiga atau booster.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pun membeberkan terkait efek samping yang dialami penerima setelah mendapatkan vaksin booster Sinopharm.

BPOM resmi memberikan izin penggunaan darurat/emergency use authorization (EUA) untuk vaksin Covid-19 Sinopharm sebagai vaksin booster.

Vaksin dengan nama SARS-Cov-2 Vaccine (Vero Cell), Inactivated, produksi Beijing Bio-Institute Biological, Cina, atau dikenal sebagai vaksin Sinopharm ini telah didaftarkan PT Kimia Farma untuk penggunaan booster homolog pada usia dewasa 18 tahun atau lebih yang telah mendapatkan dosis primer lengkap sekurang-kurangnya enam bulan.

Homolog, yaitu pemberian dosis lanjutan (booster) dengan menggunakan jenis vaksin yang sama dengan vaksin primer dosis lengkap yang telah didapat sebelumnya.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala BPOM, Penny K Lukito, dalam keterangan tertulis melalui laman resmi BPOM, Rabu (2/2/2022).

"Sesuai persyaratan penggunaan darurat, Badan POM telah melakukan evaluasi terhadap aspek khasiat dan keamanan mengacu pada standar evaluasi vaksin Covid-19 untuk vaksin Sinopharm sebagai dosis booster homolog untuk dewasa 18 tahun ke atas," ujar Penny.

Efek Samping

Berdasarkan aspek keamanan, penggunaan vaksin Sinopharm sebagai booster umumnya dapat ditoleransi dengan baik.

Frekuensi, jenis, dan keparahan reaksi sampingan atau kejadian yang tidak diharapkan (KTD) setelah pemberian booster lebih rendah dibandingkan saat pemberian dosis primer.

Adapun KTD yang sering terjadi merupakan reaksi lokal seperti nyeri di tempat suntikan, pembengkakan, dan kemerahan serta reaksi sistemik seperti sakit kepala, kelelahan, dan nyeri otot, dengan tingkat keparahan grade 1-2.

Dari aspek imunogenisitas, peningkatan respons imun humoral untuk parameter pengukuran antibodi netralisasi dan anti-IgG masing-masing sebesar 8,4 kali dan delapan kali lipat dibandingkan sebelum pemberian booster.

Respons imun setelah pemberian booster ini lebih tinggi dibandingkan respons imun yang dihasilkan pada saat vaksinasi primer.

"Persetujuan EUA Vaksin Sinopharm ini menambah alternatif vaksin booster homologus untuk platform inactivated virus."

"Karena itu, kami kembali menyampaikan apresiasi kepada Tim Ahli Komite Nasional Penilai Vaksin Covid-19 termasuk ahli di bidang farmakologi, metodologi penelitian dan statistik, epidemiologi, kebijakan publik, imunologi, kemudian ITAGI serta asosiasi klinisi atas kerja samanya yang memungkinkan vaksin ini segera rilis ke masyarakat," terang Penny.

Sumber: Kompas
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved