Ada 492 Orang di Jabar Menjadi Probable Omicron, Sebagian Besar di Daerah Ini
Sambil menunggu hasil tes, pelacakan dan pengetesan kontak erat serta perawatan pasien probable Omicron tetap dilakukan maksimal.
Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Seli Andina Miranti
Laporan Wartawan TribunJabar.id, Muhamad Syarif Abdussalam
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Sebanyak 492 orang positif Covid-19 di Jawa Barat dikategorikan sebagai probable Omicron atau yang terduga terpapar varian Omicron.
Sebagian besar berada di kawasan Bodebek (Bogor, Depok, dan Bekasi) serta Bandung Raya.
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan semuanya masuk dalam kasus Covid-19 di Jawa Barat.
Hanya saja, harus dilakukan pengujian lebih lanjut terhadap 492 sampel tersebut untuk menetapkan apakah mereka positif terpapar varian Omicron melalui Whole Genome Sequencing.
Baca juga: Ancaman Covid-19 Varian Omicron Bikin Tingkat Kunjungan Wisatawan ke Bandung Barat Lesu
"Per hari ini belum ada konfirmasi omicron, tapi yang probable, yang terduga mirip-mirip gejalanya itu ada 492 probable omicron. Tapi belum menjadi omicron karena harus dilakukan pengetesan Whole Genome Sequencing," katanya di Gedung Sate, Senin (31/1/2022).
Sambil menunggu hasil tes, katanya, pelacakan dan pengetesan kontak erat serta perawatan pasien probable Omicron tetap dilakukan maksimal. Sementara ini, semua kasus Covid-19 varian Omicron terdahulu sebanyak 33 kasus telah semuanya sembuh.
Secara keseluruhan, per 30 Januari 2022 terdapat 13.836 orang yang dirawat atau menjalani isolasi karena positif Covid-19 di Jabar. Sedangkan jika dibandingkan pada 1 Januari 2022, terdapat 532 kasus saja aktif di Jabar.
Penambahan kasus hariannya pun melonjak drastis. Jika pada 1 Januari 2022 di Jabar hanya bertambah 18 kasus Covid-19, pada 30 Januari 2022 tercatat penambahan 2.584 kasus baru di Jabar. Hal ini tentunya menimbulkan lonjakan angka keterisian rumah sakit di Jabar.
"Di Jawa Barat lonjakan terhadap rumah sakit sudah mulai terasa. Per hari ini sekitar 15 persen, dari paling rendah sekitar 1,3 persen di tanggal 2 Januari. Jadi di hari-hari awal tahun kita sangat rendah kemudian mengalami peningkatan," katanya.
Baca juga: Di Tengah Naiknya Kasus Omicron, Perkuat Imunitas Tubuh dengan Rutin Mengonsumsi Sayur-sayuran Ini
Ia menyimpulkan bahwa kenaikan kasus ini disebabkan oleh masa libur panjang di akhir tahun 2021.
"Jadi sebenarnya bisa disimpulkan memang libur panjang atau perjalanan besar di libur bersama ini mempunyai pengaruh terhadap penyebaran," katanya.
Tempat-tempat isolasi di Jabar yang berjumlah sekitar 120 lokasi pun, katanya, sudah mulai terisi kembali. Uniknya, katanya, ada dugaan masyarakat yang terkena Covid-19 memilih dirawat di rumah sakit walaupun berstatus tanpa gejala.
"Memudian kami juga minta mengecek agar tidak seperti di Jakarta, Pak Anies pernah menyampaikan bahwa kenaikan BOR (Bed Occupancy Rate)-nya itu ternyata preferensi, bukan karena harus ke rumah sakit. Jadi orang yang OTG (orang tanpa gejala), daripada di rumah, dia milih ke rumah sakit. Nah ini membuat kebingungan dalam statistik," katanya.
Seharusnya, katanya, yang ke rumah sakit adalag yang betul-betul tidak bisa dirawat di rumah. Hal inilah yang akan disampaikannya kepada para kepala daerah di Jawa Barat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/rk-di-taman-kota-kuningan.jpg)