Senin, 8 Juni 2026

Bukan Cuma Pelatih Biliar, Gubernur Sumut Juga Maki-maki Sosok Ini, Kadispora Dibilang Paok

Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi, ternyata tak hanya berkata kasar kepada Khoiruddin Aritonang, pelatih biliar.

Tayang:
Editor: Giri
Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi, menjewer dan mengusir pelatih biliar Khoiruddin Aritonang saat acara pemberian bonus PON XX Papua 2021. (Tangkapan layar via kompas.com) 

TRIBUNJABAR.ID - Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi, ternyata tak hanya berkata kasar kepada Khoiruddin Aritonang, pelatih biliar.

Khoiruddin dijewer dan diusir dari lokasi acara pemberian bonus kepada atlet dan pelatih PON XX Papua 2020.

Choki --sapaan Koiruddin-- mengatakan, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sumut, Ardan Noor, dan Ketua KONI Sumut, Jhon Ismadi Lubis, juga ikut dipermalukan di hadapan orang yang hadir dalam acara itu.

"Dimaki-maki orang di dalam itu. Bukan aku saja dimaki. 'Kadispora paok (bodoh) kau'. Ketua KONI disuruhnya semir rambutnya. 'Nyanyi klen (atlet) olahraga jaya. Apanya yang jaya'," ucap Choki menirukan apa disampaikan Edy melalui sambungan telepon, Selasa (28/12/2021).

Choki menyesalkan sikap dari Edy Rahmayadi itu. Menurutnya, Edy seharusnya menjadi sosok pemimpin panutan, bukan sebaliknya.

Hal ini akan mempermalukan dirinya sendiri sebagai pemimpin tertinggi di Sumatera Utara ini.

Dia menyebutkan, baru kali ini melihat ada pemimpin yang marah gara-gara ada yang tak tepuk tangan saat dia berbicara.

"Baru kali ini lihat pemimpin, orang tidak tepuk tangan (saat) dia cakap, dia marah," kata dia.   

Insiden ini bermula saat Edy tengah memotivasi para pelatih dan atlet peraih medali Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua di Aula Tengku Rizal Nurdin, rumah dinas gubernur di Medan, Senin kemarin.

Saat itu, sebagian besar bertepuk tangan.

Pada satu momen, Edy melihat Choki tak tepuk tangan.

Dia kemudian dipanggil ke podium lalu dijewer Edy.

Choki membantah pemberitaan yang menyebutkan dia tertidur saat itu.

Menurut dia, kata-kata Edy saat itu biasa-biasa saja, sehingga tak terlalu perlu untuk diapresiasi dengan tepuk tangan.

"Sampai di atas, 'pertanyaan kenapa kamu tidak tepuk tangan saat saya berbicara'. Aku bingung, apa yang harus aku tepuk tangankan," kata Choki.

Sumber: Kompas
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved