Kamis, 23 April 2026

Mitos Atau Fakta Beli Masakan Padang Dibung Porsinya Lebih Banyak, Begini Ceritanya. .

jika membeli masakan Padang dibungkus porsinya terasa lebih banyak. Mitos atau fakta, jika beli masakan Padang dibungkus, porsinya lebih banyak

Penulis: Irvan Maulana | Editor: Mega Nugraha
Tribun Jabar / Irvan Maulana
Rumah makan padang Adam Jaya, Jatiluhur Kabupaten Purwakarta, Senin (20/12/2021) 

Laporan Kontributor Tribun Jabar, Irvan Maulana

TIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA - Tahukah anda jika membeli masakan padang dibungkus porsinya terasa lebih banyak. Mitos atau fakta, jika beli nasi padang di bungkus, porsinya lebih banyak.

Hal itu diterangkan Uda Minto, pemilik rumah makan Padang Adam Jaya, di Desa Bunder, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Senin (20/12/2021).

Ia bercerita pada zaman kolonial Belanda orang yang membeli masakan Padang dan makan di tempat, mayoritas adalah orang Belanda.

"Masakan Padang dikenal makanan mahal, kalau dulu, orang yang makan di tempat biasanya orang Belanda, sedangkan orang pribumi biasanya dibungkus," ujar Minto.

Baca juga: Tinggalkan Bandung, Kiper Persib Teja Paku Alam Minta Doa Restu Keluarga di Padang

Pemilik rumah makan Padang yang memang orang pribumi, lantas memberi porsi seukuran batok (centong) nasi berukuran kecil untuk mengelabui harga agar orang Belanda menambah porsi dan menambah uang jika merasa perutnya kurang kenyang.

"Ceritanya, kalau diberi porsi kecil orang Belanda akan nambah porsi dan nambah uang untuk makan, sedangkan dulu orang pribumi mayoritas hidupnya miskin. Mereka jika membeli nasi Padang akan dibungkus karena untuk dimakan rame-rame di rumah," kata dia.

Baca juga: Puluhan Pelajar asal Purwakarta Ditangkap Polisi, Diduga Akan Serang Sekolah di Cikalongwetan

Mengetahui hal itu, pemilik rumah makan lantas menambah porsi nasi lebih banyak. Sebab mereka tahu bahwa satu bungkus nasi untuk dimakan rame-rame, hal itu dilakukan sebagai bentuk solidaritas antar pribumi.

"Itu sudah kebiasaan dari zaman dulu, kenapa porsi dibungkus lebih banyak? Karena pemilik rumah makan juga tahu bahwa warga pribumi beli bukan untuk dimakan sendiri," imbuhnya.

Ditambahkan Minto, saat ini pedagang Nasi Padang itu benar-benar orang Padang atau Minang. Budaya menambah porsi lebih banyak jika dibungkus masih tetap berlaku.

"Kalau yang dagang asli dari Padang atau Minang, budaya menambah porsi dibungkus itu masih berlaku, sebab sudah menjadi kebiasaan yang turun temurun," kata Minto.

Ia mengungkap, memberi porsi lebih banyak dibungkus merupakan budaya turun temurun sebagai bentuk solidaritas antar warga pribumi. Namun hal itu tentu saja tidak berlaku di semua rumah makan Padang.

"Sebenarnya tidak semua begitu, tapi memang kalau dia benar-benar orang Padang sudah pasti akan menambah porsi. Karena itu sudah jadi semacam tradisi," ujarnya.

Baca juga: Pujian Ayah Rizky Billar ke Lesti, Menantu Belajar Masak Masakan Padang Ungkap Ada Perbedaan Selera?

Lantas apa bedanya rumah makan Padang dengan rumah makan Minang, Uda Minto menyebut  jika rumah makan Padang sudah termasuk umum namun tidak dengan rumah makan Minang.

"Kalau nasi Padang sudah menjadi umum, beda dengan rumah makan Minang, dia khusus. Perbedaan paling mencolok, rumah makan Padang yang masak tidak selalu orang Padang, tapi kalau rumah makan Minang, yang masak itu mesti orang Minang asli," ungkapnya.

Dua perbedaan itu juga didasari sebagai tradisi turun temurun orang masyarakat Minang.

"Ibarat peribahasa, masakan ibu sudah pasti lebih enak dari pada masakan lain. Orang Minang percaya jika yang memasak asli orang Minang rasanya tidak akan berubah, akan tetap enak," ucapnya.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved