Penampakan Bripda Randy di Tahanan Polda Jatim, Terlibat dalam Aborsi yang Dilakukan Kekasihnya

Bripda Randy akan menghadapi sidang kode etik dan pidana umum. Ini kata Kabid Humas Polda Jatim.

Editor: taufik ismail
Tribunjatim.com/Dok Humas Polda Jatim
Bripda Randy Bagus di tahanan Mapolda Jatim. 

TRIBUNJABAR.ID, SURABAYA - Bripda Randy Bagus (21) kini harus mendekam di tahanan Mapolda Jawa Timur.

Oknum anggota Polres Pasuruan ini menjadi tersangka kasus dugaan tindak pidana aborsi yang dilakukan NW (23) mahasiswi asal Mojokerto.

NW kemudian ditemukan meninggal dunia diduga menenggak cairan racun beberapa waktu lalu.

Menurut Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Gatot Repli Handoko, Bripda Randy Bagus kini sedang mendekam di Ruang Tahanan Mapolda Jatim.

Pemuda asal Pandaan itu, terpaksa mendekam di balik jeruji, selama proses penyelidikan atas kasus yang menjeratnya itu, berlangsung.

Randy, terbukti terlibat dalam upaya aborsi sebanyak dua kali atas kehamilan yang dialami pacarnya, NW, pada Maret 2020 dan Agustus 2021.

Dua kali upaya aborsi tersebut, diduga kuat menyebabkan NW mengalami tekanan mental, hingga membuat dirinya nekat mengakhiri hidup dengan cara menenggak cairan racun.

Aksi nekat mahasiswi jurusan Sastra Inggris ini dilakukan di dekat makam ayahandanya, di permakaman Mojokerto, Kamis (2/12/2021) sore.

"Ditahan di Polda Jatim. Enggak (dipindah) sementara masih di kami dulu," katanya saat dihubungi TribunJatim.com, Minggu (5/12/2021).

Mengenai proses pelimpahan berkas perkara yang nantinya akan dilakukan oleh pihak penyidik Polda Jatim kepada pihak jaksa penuntut umum (JPU), Gatot mengaku, pihaknya masih menunggu keputusan proses hukum terhadap tersangka.

Apakah si tersangka bakal dilakukan sidang etik kepolisian secara internal, dengan jeratan Pasal 7 dan 11, Perkap Nomor 14 Tahun 2011 Tentang Kode Etik.

Atau, sidang untuk pelanggaran tindak pidananya, terlebih dahulu, dengan Pasal 348 Jo Pasal 55 KUHP.

"Kalau kita nanti, (melihat) siapa yang paling duluan. Kalau memang harus kode etik. Ya, kode etik dulu yang harus kita laksanakan. Baru pidananya kita kuatkan," ucap mantan Kasat Sabhara Polrestabes Surabaya itu.

Kemudian, terkait proses hukum atas tindak pidana pelanggaran hukumnya, Gatot mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil akhir proses penyelidikan kasus tersebut.

Halaman
123
Sumber: TribunJatim.com
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved