Sabtu, 30 Mei 2026

Penemuan Mayat di Subang

Belajar dari Kasus Subang Ahli Forensik Ingatkan Jika Terjadi Kasus Perampasan Nyawa Lakukan Hal ini

Belajar dari kasus Subang yang TKP terkontaminasi ahli forensik dr Hastry mengingatkan warga pentingnya mengetahui TKP terlebih kasus perampasan nyawa

Tayang:
Penulis: Hilda Rubiah | Editor: Seli Andina Miranti
kolase Instagram hastry_forensik/Kompas TV
Olah TKP Pembunuhan Ibu Anak di Subang, dr Hastry selidiki kamar tempat Tuti dan Amalia dibunuh 

TRIBUNJABAR.ID - Ahli forensik, dr Hastry membeberkan fakta TKP kasus Subang terkontaminasi.

Menurutnya, TKP kasus Subang terkontaminasi karena banyak orang yang masuk ke TKP tanpa diketahui penyidik.

Ia akui hal tersebut membuat tim penyidik kesulitan dan harus lebih gigih saat olah TKP.

Kendati begitu, kinerja tim kepolisian tak diragukan lagi untuk mengumpulkan bukti di TKP.

Pihaknya mengklaim penyidik telah berhasil mengumpulkan bukti dan temuan di TKP kasus Subang tersebut.

Baca juga: 102 Hari Kasus Subang, dari Nasi Goreng, Puntung Rokok, hingga Ponsel Amalia Bisa Jadi Petunjuk

Demikian, belajar dari kasus Subang itu yang TKP terkontaminasi, dr Hastry mengingatkan warga pentingnya mengetahui TKP dalam hal kasus apapun, terlebih kasus perampasan nyawa.

Hal ini seperti yang disampaikan dr Hastry saat berbincang dengan Denny Darko di kanal Youtube-nya, dikutip Tribunjabar.id, Minggu (28/11/2021).

Dokter Hastry mengatakan masyarakat harus mengetahui jika ada kejadian suatu tindak pidana terkait berhubungan tubuh jenazah atau korban.

Ia menjelaskan masyarakat juga harus memperhatikan TKP yang harus dilindungi.

“TKP itu minimal dilindungi lah, apa adanya jangan dipindahin jenazahnya, jangan diangkat,” ungkap dr Hastry.

Jika terjadi perubahan tersebut, kata dr Hastry maka hal itu akan menjadi kesulitan tim inafis berkaitan dengan olah TKP.

Lantas, jika masyarakat dihadapkan pada kondisi seperti kasus Subang, dr Hastry menjelaskan apa yang semestinya dilakukan warga sekitar.

Ahli forensik itu menegaskan agar warga sekitar menjaga TKP agar tidak ada orang lain masuk kecuali polisi.

Ia pun mengimbau agar warga sekitar memberikan jarak pada TKP, seperti police line.

Dokter Hastry paham jika ada anggota keluarga yang sedih hingga menghampiri TKP.

Namun, di sisi lain hal tersebut juga dapat menyulitkan pihak kepolisian untuk mengidentifikasi TKP.

Belakangan ini dr Hastry turut menjadi sorotan karena ikut menangani kasus Subang.

Karena hal ini, tak jarang ia dimintai penjelasan oleh masyarakat dan warganet terkait penanganan kasus Subang yang sudah berlangsung 3 bulan tersebut belum terungkap.

Sebagai ahli di bidang forensik, dr Hastry hanya bisa menjelaskan sisi di bidangnya tersebut.

Tak berkewenangan untuk mengungkap kasus Subang secara blak-blakan guna menjaga keprofesionalitasnnya.

Kendati begitu ia mengajak serta mengedukasi masyarakat agar paham TKP jika ada kejadian. 

Sebelumnya, ikut terjun menangani kasus Subang, nama dr Hastry ahli forensik Polri tak luput dari sorotan publik.

Tiga bulan kasus Subang belum diungkap, dr Hastry angkat bicara terkait penanganan kasus perampasan nyawa Tuti Suhartini dan Amalia Mustika Ratu tersebut.

Meski tak secara gamblang, dr Hastry memaparkan sejumlah fakta yang ia temui dalam pemeriksaan kasus Subang.

Ahli Forensik dr Hastry menemukan petunjuk di kuku Amalia. Korban kasus Subang ini diduga sempat melawan pelaku.
Ahli Forensik dr Hastry menemukan petunjuk di kuku Amalia. Korban kasus Subang ini diduga sempat melawan pelaku. (Tribunnewsbogor.com/YouTube Tribunnews/Tribun Jabar)

Baca juga: Teka-teki Nasi Goreng & Puntung Rokok di TKP Kasus Subang, Jadi Jalan Polisi Ungkap Pelaku Rajapati

Ia membeberkan fakta kasus Subang terkait bidang keahliannya pada sisi forensik atau patologi dua jasad korban.

Tentu saja dari hasil forensik tersebut ditemukan waktu kematian korban hingga cara korban meninggal.

Temuan pada pemeriksaan tersebut penting di dunia kepolisian tak hanya mengidentifikasi korban.

Dari hasil forensik tim penyidik menemukan bukti berkaitan dengan tindakan pelaku yang mendukung pemeriksaan yang komprehensif (menyeluruh).

Karena terjun sebagai bagian dari tim yang menangani kasus Subang, dr Hastry turut menjadi sasaran dari pertanyaan publik atas kasus tersebut.

Tak pelak, dr Hastry terjun menangani kasus Subang tak lain juga karena dimintai bantuan publik.

Simak video selengkapnya

Tahapan Pemeriksaan Alat Kasus Subang

Memasuki 100 hari kematian korban kasus Subang, ahli forensik akhirnya buka suara.

Kombes Pol dr Hastry Sumy Purwanti membeberkan fakta terkait pengungkapan kasus Subang yang berlangsung lama.

Ahli forensik itu memaparkan, bahwa kasus Subang harus melalui tahapan panjang pemeriksaan.

Bahkan diketahui sampai saat ini, sudah ada 55 saksi yang telah diperiksa.

Selain itu, ada hal yang lebih penting terkait barang bukti dan temuan polisi di TKP.

Mulai dari pemeriksaan di laboratorium, DNA hingga sidik jari yang membutuhkan waktu lama.

Baca juga: Prediksi Ahli Forensik Dr Hastry Kasus Subang Diungkap Sebelum 100 Hari, Jumlah Tersangka Ditangan

Dokter Hastry membeberkan tahapan pemeriksaan itu pun penyebab proses pengungkapan kasus Subang berlangsung lama.

Ahli forensik itu membandingkan proses identifikasi kasus lain yang ada data pembanding.

"Kalau proses identifikasi biasa, bencana massal itu bisa cepat karena ada data pembanding,” ujar ahli forensik, dr Hastry, dikutip Tribunjabar.id dari tayangan kanal Youtube Denny Darko, (23/11/2021).

Dengan adanya data pembanding itu maka proses identifikasi maka pengungkapan berlangsung cepat.

Ia juga mencontohkan kasus teroris yang juga bisa diproses cepat karena ada data pembanding dari keluarga.

Namun terkait kasus Subang, dr Hastry menjelaskan pihaknya sudah mengumpulkan puluhan DNA yang kemungkinan ada di sekitar TKP.

Setelah DNA terkumpul, tim-nya mulai mencocokkan dengan barang bukti yang didapat.

“Nah kita petakan DNA itu, matching gak dengan DNA yang kita dapat dari barang bukti lain di TKP, nah itu yang proses lama," jelasnya.

Lokasi kejadian kasus Subang
Lokasi kejadian kasus Subang ()

Demikian kata dr Hastry itulah proses pemeriksaan yang lama.

Ia menjelaskan untuk proses pemeriksaan DNA dalam darah berlangsung cepat.

Bahkan dalam waktu tiga hari saja sudah dipastikan selesai.

Namun, darah yang berada di benda mati semisal dari baju, maka proses identifikasi berangsur lama.

Ia juga mencontohkan hal lainnya semisal DNA yang ada berasal dari sidik jari, puntung rokok, mobil atau properti lainnya yang berkaitan dengan TKP.

Tak cukup di sana, dr Hastry menjelaskan pemeriksaan tersebut pun dilakukan berulang.

Terlebih pada kasus Subang tersebut, diakui dr Hastry bahwa TKP agak terkontaminasi karena banyak orang yang masuk ke TKP tanpa diketahui penyidik.

Karena hal ini, dr Hastry menjelaskan  proses pemeriksaan di TKP kasus Subang barang bukti otentik diambil beberapa kali.

Simak video selengkapnya

Baca juga: dr Hastry Ungkap Faktor dan Penyebab Pemunduran Pengungkapan Kasus Subang, Sebut Ada Perencanaan

Faktor Pemunduran Pengungkapan Kasus Subang

Selain tahapan panjang tersebut, ahli forensik dr Hastry pun membeberkan faktor dan penyebab pemunduran pengungkapan kasus Subang.

Sebelumnya, ahli forensik Polri itu memiliki prediksi bahwa kasus Subang bisa diungkap sebelum 100 hari kematian korban.

Ia bahkan yakin, kasus perampasan nyawa Tuti Suhartini (55) dan Amalia Mustika Ratu (23) itu pasti terungkap.

dr Hastry yakin setelah melakukan autopsi ulang pada jasad korban penemuan mayat di Subang tersebut.

Lewat kanal Youtube Denny Darko, dr Hastry menyebut prediksi kasus Subang bisa diungkap seminggu kemarin.

“Saya prediksinya kan selalu kalau enggak tanggal 8, tanggal 18 (November, red), ini udah lewat,” ungkap dr Hastry, ahli forensik tersebut.

Adapun prediksi dr Hastry itu berdasarkan segi kasus yang dipecahkan.

Namun, ahli forensik itu percaya barang bukti yang ditanganinya dalam penyelidikan sudah terkumpul.

Mengakui prediksinya meleset, dr Hastry menjelaskan ada banyak faktor yang menyebabkan penentuan tersangka terjadi pemunduran.

Ahlu forensik itu menjelaskan, polisi yang menangani harus melakukan pemeriksaan komprehensif (menyeluruh).

Ia menjelaskan bahwa barang bukti terkumpul tidak hanya dari tim forensik saja.

Artinya ada tim lainnya yang mendukung proses penyelidikan dalam mengungkap kasus.

Selain itu, ada juga faktor lainnya seperti kekurangan mengumpulkan bukti forensik di TKP.

Saat disinggung apakah TKP di kasus Subang saat itu tidak steril, hal ini pun dibenarkan dr Hastry.

Bahkan ahli forensik itu menyebut adanya perencanaan luar biasa yang dilakukan di TKP.

“Memang ada perencanaan yang luar biasa,” ungkap dr Hastry.

Lebih dari pada itu, ahli forensik itu juga mengatakan satu di antara faktor lamanya mengungkap kasus Subang karena juga kehati-hatian polisi.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved