Harga Melambung Tinggi, Minyak Goreng Curah Langka di Pasaran
Melambungnya harga minyak goreng curah sejak sepekan terakhir, membuat ketersediaan salah satu kebutuhan pokok masyarakat tersebut mulai langka
Penulis: Cipta Permana | Editor: Siti Fatimah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Melambungnya harga minyak goreng curah sejak sepekan terakhir, membuat ketersediaan salah satu kebutuhan pokok masyarakat tersebut, mulai langka di beberapa pasar tradisional di Kota Bandung.
Berdasarkan pantauan Tribunjabar.id, di Pasar Kosambi dan Pasar Rancabolang, Kota Bandung dari belasan pedagang los sembako, hanya satu los yang masih menjual minyak goreng curah tersebut.
Meskipun tersedia, namun harga yang melambung berdampak sepi pembeli.
Baca juga: Minyak Goreng Curah di Kabupaten Purwakarta Merangkak Naik, Omset Pedagang Turun 20 Persen
Sutisna (41) pedagang minyak goreng curah di Pasar Kosambi mengatakan, harga minyak goreng curah terus naik secara bertahap. Dari harga Rp 14-15 ribu per kg menjadi Rp 19 ribu per kg.
Kondisi ini pun lanjutnya, kerap dikeluhkan para pembeli. Pasalnya harga yang cenderung mendekati harga jual dari minyak goreng kemasan, membuat para pembeli yang datang mengalihkan pilihannya untuk membeli minyak goreng kemasan.
"Ini juga (harga) banyak yang ngeluh, pas tahu harga naik terus, terutama pedagang seperti gorengan, yang emang butuh minyak goreng buat dagangannya. Malahan, karena harga yang kemasan itu di bawah curah sedikit, rata-rata Rp 33 ribu - Rp 34 ribu dua liter, yang satu liter Rp 17,5 ribu, pada milih yang kemasan, jadi yang curah teu payu (enggak laku)," ujarnya saat ditemui di los dagangnya, Senin (1/11/2021).
Baca juga: Harga Minyak Goreng Curah di Kabupaten Purwakarta Naik Bertahap, Kini Nyaris Rp 20 Ribu Per Kilogram
Sutisna mengaku, mendapatkan informasi bahwa terus melambung harga minyak goreng curah, disebabkan pemerintah yang ingin menghilangkan minyak goreng curah di pasaran dan menggantinya dengan minyak goreng kemasan.
"Saya dengar-dengar sih katanya, kondisi gini teh, yang minyak curah mau di ilangin, terus diganti sama yang kemasan, itu selentingannya. Ada juga informasi yang bilang kalau CPO-nya (crude palm oil/minyak mentah sawit) mau di jual ke luar. Ah tapi belum tahu juga mana yang bener, cuma dengar-dengar aja, tapi yang jelas mah masyarakat jadi sulit," ucapnya.
Hal senada disampaikan oleh Ayi (48) pedagang sembako di Pasar Rancabolang.
Menurutnya, saat ini pembelian minyak goreng curah terus menurun akibat tingginya harga jual.
Baca juga: Di Indramayu, Warga yang Sudah Divaksin Bawa Pulang Hadiah, Ayam Hingga Minyak Goreng
Bahkan, dirinya hanya menyediakan delapan kantong plastik ukuran satu kilogram dari biasanya 15-20 kantong per hari.
"Pembeli minyak (goreng) curah terus turun, soalnya harganya lagi mahal. Saya juga cuma nyetok sedikit, sekitar delapan kantong aja, itu juga udah pesenan dari pelanggan yang biasa kesini, kalau pembeli baru mah saya engga kasih, soalnya pasti engga mau, dan milih beli minyak kemasan soalnya harganya mepet," ujarnya saat ditemui di los dagangnya.
Ia pun berharap, pemerintah segera mengambil solusi atas kondisi tersebut, karena harga minyak goreng curah yang tinggi dapat mempengaruhi daya beli masyarakat.
"Ya pinginnya mah pemerintah cari caralah buat masalah ini, apalagi minyak goreng kan kebutuhan masyarakat juga. Kalau harganya terus-terusan naik, kasian rakyat kecil yang cuma bisa beli minyak curah karena duitnya pas-pasan," katanya