Kamis, 11 Juni 2026

22 Sekolah di Kota Bandung Ditutup Lantaran Ada Penularan Covid-19

Penularan diketahui setelah Dinas Kesehatan Kota Bandung melakukan tes PCR acak terhadap ribuan murid dan guru di sejumlah sekolah.

Tayang:
Istimewa/Dok Humas Disdik Kota Bandung
Data 14 sekolah di Kota Bandung yang kembali menggelar PJJ, karena ditemukannya siswa/guru yang terkonfirmasi positif Covid-19. 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG- Jumlah sekolah yang terpaksa harus kembali menjalani pembelajaran jarak jauh (PJJ) di Kota Bandung kembali bertambah.

Pembelajaran tatap muka terbatas (PTMT) di sekolah-sekolah tersebut terpaksa kembali dihentikan menyusul terjadinya penularan Covid-19 terhadap sejumlah guru dan murid.

Penularan diketahui setelah Dinas Kesehatan Kota Bandung melakukan tes PCR acak terhadap ribuan murid dan guru di sejumlah sekolah.

"Sampai pukul 14.00 tadi, sekolah yang ditutup sudah sebanyak 22 sekolah. PTM-nya dihentikan. Di 33 sekolah lainnya, penghentian PTM hanya satu kelas rombongan belajar. Di 40 sekolah lainnya tidak ada kasus Covid," ujar Sekretaris Dinas Pendidikan (Sekdisdik) Kota Bandung Cucu Sahputra kepada Tribun melalui sambungan telepon, Selasa (26/10/2021). 

Cucu mengatakan, dari 5.993 sampel swab tes di lingkungan sekolah di Kota Bandung, sebanyak 3 persen di antaranya dinyatakan positif terpapar Covid-19. 

"Jadi yang dinyatakan positif Covid-19 ada sebanyak 117 orang, terdiri dari 103 siswa dan 14 guru," ujar Cucu.

Baca juga: Sekolah di Kota Bandung yang Hentikan PTM Bertambah, Bila Nekat Gelar PTM, Kepsek Bisa Dicopot

Cucu mengatakan, sejauh swab acak baru dilaksanakan di 157 sekolah.  "Rencananya, swab acak akan kami lakukan di 212 sekolah di Kota Bandung," ujar Cucu.

Cucu menegaskan, sekolah yang ditutup sementara harus kembali menggelar PJJ. Selama penutupan, PTMT tak boleh dilakukan dengan alasan apa pun.

"Jika ada yang melanggar, kepala sekolahnya diberhentikan," ujarnya.

Wakil Ketua III DPRD Kota Bandung Edwin Senjaya mengatakan, keputusan PJJ dan PTM  sejatinya merupakan keputusan yang dilematis.

Menurut Edwin  sejak belajar di rumah kemampuan anak menurun, sehingga banyak pihak mendorong PTMT dilakukan.

Memutuskan menggelar PTMT saat pandemi masih terjadi, ujarnya, juga mengandung risiko, terutama jika semua pihak yang terlibat tidak disiplin dan pengawasannya tak berjalan dengan baik.

"Saya yakin masih banyak di sekolah yang tidak melakukan prokes ketat, tidak pakai masker, tidak cek suhu. Makanya  saat  PTMT masih ada yang positif dan menyebar," ujarnya.

Baca juga: Puluhan Siswa Positif Covid-19, 14 Sekolah di Kota Bandung Belajar Jarak Jauh Lagi, Ini Daftarnya

Klaster Keluarga

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Dedi Supandi mengatakan pemerintah akan terus memastikan kesehatan dan keselamatan peserta didik yang tengah melaksanakan PTMT.

Dedi mengatakan kasus Covid-19 yang mengakibatkan puluhan sekolah di Kota Bandung kembali melaksanakan PJJ menjadi sebuah pelajaran dan evaluasi. Menurutnya, adanya kasus positif Covid-19 tersebut berasal dari klaster keluarga.

"Yang harus kita lakukan adalah bukan hanya kesehatan dan keselamatan siswa saat berada di lingkungan sekolah, tapi kita juga harus memastikan keselamatan dan kesehatan siswa di antara rumah ke sekolah ataupun saat pulang ke rumah," ujar Dedi melalui ponsel, Selasa (26/10/2021).

Dedi mengatakan diperlukan peran dari semua pihak, mulai dari cabang dinas, satuan tugas, pihak keamanan, maupun pemerintah kota dan kabupaten, dalam menangani hal ini.

Menurut Dedi, dari 5.033 sekolah di Jabar, terdapat 2.922 sekolah yang sudah menggelar PTM terbatas. Pelaksanaan PTM sendiri dilakukan secara bertahap, dimulai 8 September 2021 lalu.

"Untuk Bogor dan Depok PTM dilaksanakan pada awal Oktober kemarin," katanya.

Baca juga: PPKM Level 3, 3 Kecamatan Ini Jadi Daerah Kasus Pasien Aktif Covid-19 Tertinggi di Majalengka

Dengan penurunan kasus positif Covid-19 di Jabar yang terjadi belakangan ini, ia memastikan ada sekitar 1.600 sekolah lagi yang telah mengajukan untuk melaksanakan PTM.

Dedi juga mengungkapkan, sejak awal pihaknya telah meminta satuan pendidik agar menyiapkan semua layanan bagi siswa, baik itu untuk melaksanakan PJJ maupun PTM.

"Semakin lama, PTM akan semakin maksimal yang akan dilakukan di kabupaten kota," katanya.

Sebelum PTM, katanya  orang tua maupun wali siswa diminta untuk memilih antara PTM maupun PJJ. Selanjutnya, pengawas sekolah melakukan pengecekan terhadap setiap sarana yang ada di sekolah.

"Bila terjadi kekurangan menjadi bagian yang harus dilengkapi dalam proses, nanti setelah itu masuk ke cabang dinas, dari canag dinas melakukan koordinasi dengan satuan tugas kabupaten kota bupati dan wali kota," ucapnya.

Jika pada PTM terjadi kasus positif Covid-19 lebih dari 5 persen, maka sekolah tersebut akan ditutup sementara dengan jangka waktu dua pekan. Sementara itu, PJJ akan dilaksanakan sambil menunggu perkembangan dari hasil laporan kontak tracing. (tiah sm/syarif abdussalam)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved