Senin, 13 April 2026

Wawancara Eksklusif

Wawancara Eksklusif Profesor Yusril Ihza Mahendra: Saya Tak Minta Bayaran Saat Bela Ibas 

Disebut-sebut, Yusril Ihza Mahendra meminta bayaran fantastis, Rp 100 miliar, ke Partai Demokrat.

Fransiskus Adhiyuda/Tribunnews.com
Ketua Tim hukum 01, Yusril Ihza Mahendra saat ditemui sebelum persidangan di Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (20/6/2019). 

TRIBUNJABAR.ID- Advokat Prof Yusril Ihza Mahendra membantah tak merapat ke Partai Demokrat kubu Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) karena honornya yang tak sesuai dengan keiginannya.

Disebut-sebut, Yusril Ihza Mahendra meminta bayaran fantastis, Rp 100 miliar. Berikut petikan wawancara khusus dengan Direktur Pemberitaan Tribunnetwork Febby Mahendra Putra dan News Manager Tribunnetwork Rachmat Hidayat, dengan Yusril Ihza Mahendra, Rabu (13/10/2021).

Jubir Demokrat Herzaky menyebut Anda pernah diajak komunikasi dengan DPP Partai Demokrat, tapi tidak deal karena honor yang Anda minta Rp 100 miliar. Bagaimana ceritanya?

Sebenarnya saat kisruh ini terjadi ada anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat yang menghubungi saya. 'Bagaimana kalau Bang Yusril membantu kami ini?'.

Saya bilang, ya cobalah kita jajaki, kita bahas bersama-sama. Sesudah itu juga ada melalui orang-orang, melalui teman-teman saya dan orang yang saya kenal, yang mengajak bagaimana kalau saya menjadi lawyer Partai Demokrat

Beberapa kali mereka meminta mengadakan pertemuan. Saya katakan, sudah lebih satu tahun saya bekerja dari rumah, tidak keluar rumah, tidak bertemu orang.

Jadi saya minta maaf, kecuali ada pertemuan secara virtual barangkali saya bisa hadir. Tapi itu tidak pernah terjadi karena mereka menghendaki adanya pertemuan secara langsung. 

Baca juga: Jubir Partai Demokrat Sebut Megawati Jadi Presiden dengan Gulingkan Gus Dur, Kini Sebut Pengagum

Bahkan ada teman yang mengaku katanya bagaimana kalau saya bertemu langsung dengan AHY, tapi itu juga tidak pernah terjadi.

Jadi tidak pernah satu kalipun saya bertemu dengan pimpinan Partai Demokrat, anggota DPR Partai Demokrat, secara fisik, enggak pernah sama sekali.

Yang pakai telepon itu ngomong hanya anggota DPR, AHY-nya juga tidak pernah ada komunikasi dengan saya melalui telepon ataupun virtual. Dengan pak SBY juga tidak, siapapun juga tidak ada. 

Jadi bagaimana ceritanya bisa ramai soal Rp 100 miliar?

Kita harus paham bahasa Indonesia itu kadang-kadang bersayap. Kadang memang orang itu ngomong Rp 100 miliar itu benar-benar Rp 100 miliar.

Bisa juga orang itu sebenarnya enggak mau membantu orang itu, lalu menawarkan sesuatu yang seperti yang dibilang tadi, tidak masuk akal dan kemudian menyampaikan bahwa angkanya seperti itu. 

Saya pikir, wajar-wajar saja kalau misalnya advokat itu minta fee kepada calon klien. Biasa ya, bernegoisasi. Penegak hukum itu kan ada beberapa.

Ada jaksa, polisi, hakim, dan advokat. Tiga yang pertama ini dibiayai oleh negara pakai uang rakyat, tapi advokat kan tidak. Advokat itu dibayar oleh kliennya.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved