Kata Ustaz Abdul Somad, Acara Maulid Nabi Tak Boleh Melenceng dari Empat Hal Ini, Terakhir Makan
Acara Maulid Nabi sudah biasa digelar umat Islam di Indonesia. Nabi Muhammad SAW lahir pada 12 Rabiul Awal atau tahun gajah.
TRIBUNJABAR.ID - Acara Maulid Nabi sudah biasa digelar umat Islam di Indonesia.
Nabi Muhammad SAW lahir pada 12 Rabiul Awal atau tahun gajah.
Pada tahun ini, tanggal 20 Oktober bertepatan dengan lahirnya Nabi Muhammad SAW dan ditetapkan sebagai hari libur.
Di Indonesia, umumnya digelar perayaan Maulid Nabi dengan beberapa acara.
Hal itu berlangsung secara turun-temurun dan menjadi bagian tradisi suatu daerah tersebut.
Ustaz Abdul Somad menjelaskan, peringatan Maulid Nabi sebaiknya tidak melenceng dari empat hal yakni membaca Al-Qur'an, sejarah nabi, tausiah, dan makan.
Dalam Fatâwa al-Azhar dinyatakan oleh Syekh ‘Athiyyah Shaqar bahwa menurut Imam al-Suyuthi, al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani, dan Ibnu Hajar al-Haitsami memperingati Maulid Nabi itu baik.
Meskipun demikian mereka mengingkari perkara-perkara bid’ah yang menyertai peringatan maulid.
"Bahwa maulid itu masro' disyariatkan dengan dalil-dalilnya. Kalau boleh merayakan selamatnya Musa dari kejaran Firaun maka boleh mensyukuri lahirnya Nabi Muhammad SAW," kata Ustaz Abdul somad.
Ingatkan nikmat-nikmat Allah, ingatkan nikmat sehat.
Kata Ustaz Abdul Somad, Nabi Muhammad memeringati hari lahirnya dengan cara beribadah kepada Allah SWT yaitu berpuasa setiap hari Senin.
Dia menjelaskan, banyak ulama yang melarang maulid karena di dalamnya ada bid'ah mungkaro.
Menurut Ustaz Abdul Somad seperti keterangan Syekh Imam Al-Suyuthi, maulid itu bersyarat dan hanya empat saja.
"Pertama baca Al-Qur'an, sejarah nabi, ketiga tausiah, dan keempat makan," ujarnya.
Berbagai macam kegiatan yang dilakukan untuk memperingati maulid seperti melaksanakan ceramah di majelis ilmu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/profil-ustaz-abdul-somad-atau-uas.jpg)