Breaking News:

Gunung Sindanggeulis Purwakarta Terbelah, Dedi Mulyadi: Penambang Dilarang Mendekat!

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi mengecek informasi kebenaran Gunung Sindanggeulis di Desa Linggasari, Kecamatan Plered, terbelah oleh aktivi

Editor: Darajat Arianto
Dok. Pribadi
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi mengecek lokasi penambangan di Gunung Sindanggeulis di Desa Linggasari, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta. 

TRIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA – Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi mengecek informasi kebenaran Gunung Sindanggeulis di Desa Linggasari, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, terbelah oleh aktivitas pengeboman tambang.

“Saya dapat informasi ada gunung belah. Gunungnya lagi ditambang. Saya ingin memastikan kabar tersebut sehingga bisa segera mengambil langkah agar tidak meninggalkan problem lingkungan,” ujar Dedi Mulyadi.

Sesampainya di lokasi Dedi bertemu tim ahli eksternal dari Unpad yang juga sedang melakukan penelitian mengenai fenomena tersebut. Tim dipimpin langsung Kaprodi Geologi Unpad Dr Irvan Sophian.

Kepada Dedi, Irvan menjelaskan gunung tersebut memang sejak awal memiliki pola retakan dan dilakukan peledakan untuk memudahkan proses penambangan. Gunung tersebut memiliki sejumlah kandungan batuan mulai dari yang bertekstur keras, andesit, lempung hingga batuan licin.

“Sebelumnya memang ada pola belah secara alami. Belah ini karena ada pergerakan, bergeser. Di sini kemari hujan lebat jadi secara alamiah bergeser (belah),” ujar Irvan.

Irvan mengatakan, fenomena tersebut bisa terjadi di mana saja. Bahkan gunung serupa yang tidak ditambang bisa terlihat terbelah karena proses alami. “Ini bisa terjadi di mana saja,” katanya.

Setelah dilakukan pemantauan dan penelitian, Irvan telah merekomendasikan agar menghindari daerah yang terbelah. Sebab bukan tidak mungkin akan terjadi longsoran yang membahayakan jiwa para penambang batu.

“Sekarang tidak boleh ada yang mendekat karena khawatir longsor. Kita isolasi dulu,” ucap Irvan.

Sementara itu Dedi menilai retakan atau belahan yang ada di gunung tersebut cukup besar dan membahayakan. Sehingga ia meminta pemilik tambang mengikuti arahan tim ahli untuk tidak melakukan pekerjaan di sekitar lokasi.

“ini jauh dari pemukiman dan tidak begitu berbahaya bagi masyarakat. Tapi ini berbahaya bagi pegawai tambang sehingga dilarang untuk mendekat,” ucap Dedi.

Menurutnya meski gunung tersebut berada di wilayah pertambangan namun tetap harus dilakukan pengecekan. “Sekecil apapun potensi harus diantisipasi jangan menunggu dulu bencana terjadi,” kata Dedi Mulyadi. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved