Breaking News:

Buron 12 Tahun, Koruptor Garut Ini Ngumpet di Subang, Ditangkap Pemburu Buron Saat Mau Cerai

Buron selama 12 tahun  seorang pemborong asal Pandeglang akhirnya ditangkap jaksa pemburu buron Kejaksaan Negeri Garut, Kamis (16/9/2021).

Penulis: Sidqi Al Ghifari | Editor: Mega Nugraha
Tribun Jabar / Sidqi Al Gifari
Buron selama 12 tahun, Tauhidi seorang pemborong asal Pandeglang akhirnya ditangkap jaksa pemburu buron Kejaksaan Negeri Garut, Kamis (16/9/2021). 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Garut, Sidqi Al Ghifari

TRIBUNJABAR,ID, GARUT -  Buron selama 12 tahun, Tauhidi seorang pemborong asal Pandeglang akhirnya ditangkap jaksa pemburu buron Kejaksaan Negeri Garut, Kamis (16/9/2021).

Terpidana korupsi bernama Tauhidi (52) diputus bersalah pada 2009 karena terbukti korupsi dalam pembangunan Sarana dan Prasarana Usaha Kelautan Tahun Anggaran 2005 di Lingkungan Dinas Perikanan Pemprov Jabar di kawasan Cikelet Kabupaten Garut

"Dulu ia sudah divonis dua tahun penjara, tersangka kasus tindak pidana korupsi untuk pengadaan pengembangan proyek pusat pelelangan ikan (PPI) di Cilautereun, Cikelet," ujar Kepala Kejari Garut Neva Sari Susanti saat melakukan pers release di Kejari Garut, Kamis (16/9/2021) malam.

Terbukti korupsi dalam proyek PPI, Tauhidi merugikan negara Rp 599 juta dari biaya proyek senilai Rp 1,1 miliar rupiah yang diserahkan kepada PT Satia Nugraha Mulya.

Baca juga: Buron 15 Tahun, Terpidana Korupsi Bank Mandiri Dibekuk Tim Gabungan Kejati Jabar

Kemudian PT Satia  Nugraha Mulya memberikan kuasa kepada Tauhidi untuk menggarap proyek PPI tersebut. Terdakwa kemudian melakukan pekerjaannya namun ternyata hasilnya tidak sesuai dengan spesifikasi dalam kontrak kerja dan dan tidak tepat waktu.

Selama buron Tauhidi mengganti seluruh identitasnya, ia kemudian berhasil  terdeteksi oleh pemburu buron saat dirinya mengurus proses perceraian di Kabupaten Subang.

"Yang bersangkutan mengajukan cerai jadi terdata, jadi data-datanya muncul ada alamat rumahnya ada alamatnya jelas, kita kordinasi dengan Kejari Subang untuk melakukan penangkapan," ungkap Neva.

Neva menjelaskan terpidana sempat bebas saat putusan tahun 2007 namun Kejaksaan Negeri Garut saat itu melakukan kasasi.

Kemudian di tahun 2009 turun peninjauan kembali (PK) dengan putusan pidana penjara dua tahun denda Rp 200 juta subsider enam bulan dan uang pengganti sebesar Rp 449 juta yang harus dibayar oleh terpidana.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved