Cerita Petani Umbi Porang di Ciamis, Saat Harga Turun, Mereka Malah Masih Untung hingga 50 Persen

Dibandingkan dengan awal musim panen Mei lalu, harga umbi porang di tingkat petani turun anjlok dari akhir Agustus dan awal September ini.

Penulis: Andri M Dani | Editor: Mega Nugraha
Tribun Jabar / Andri m Dani)           
Perkembangan budidaya porang di Ciamis kini mulai memasuki era baru, yakni menggunakan mulsa plastik seperti yang umum ditemukan di budidaya cabai dan tomat. Kebun pertama di Ciamis yang memulai menerapkan teknologi mulsa plastik tersebut adalah kebun porang seluas 1 hektare di Kampung Babakan Dusun Cianggini Desa/Kecamatan Cikoneng. Tanam perdana kebun porang dengan sistem mulsa plastik tersebut berlangsung simbolis, Sabtu (14/8) 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Andri M Dani

TRIBUNJABAR.ID,CIAMIS – Dibandingkan dengan awal musim panen Mei lalu, harga umbi porang di tingkat petani turun anjlok dari akhir Agustus dan awal September ini.

“Waktu awal musim panen Mei dan Juni lalu saya jual umbi porangmasih Rp 10.000/kg. Sekarang sudah turun jadi Rp 7.000/kg,” ujar Dudung Abdurahman (45), petani porang, warga Dusun Walahir Desa Jelegong Kecamatan Cidolog Ciamis kepada Tribun Sabtu (4/9) sore.

Dari kebun porang seluas 4.200 meter persegi di dusun itu,  menurut Dudung hasil panen bulan Mei dan Juni  lalu  mencapai 2,5 ton umbi porang.

“Semua saya jual dalam bentuk umbi mentah. Ada penampung dari Ciamis yang dayang langsung ke Jelegong. Kebetulan saya menjualnya saat harga lagi bagus, masih Rp 10.000/kg. Tetapi sekarang harga porang sudah rutun jadi Rp 7.000/kg,” katanya.

Baca juga: JANGAN LUPA Live Streaming Indosiar Persib Bandung vs Barito Putera di Liga 1 2021 Pukul 20.30 WIB

Meski harga porang turun jadi hanya Rp 7.000/kg, menurut Dudung, petani masih untung besar.

“Jangankan harga Rp 7.000/kg. Dengan harga Rp 5.000/kg saja, petani masih untung. Waktu panen kemarin, ada umbi yang beratnya sampai 5 kg. Itu satu umbi,”ujar Dudung yang juga Kepala Desa Jelegong Cidolog tersebut.

Setelah menikmati hasil panen porang yang menjanjikan, pada musim tanam Agustus – September ini, Dudung sudah memperluas kebun porang dari semula 4.200 meter jadi 1 hektare.

“Musim kemarin saya nanam porang hanya 4.200 meter. Sekarang ada tambahan lahan ditanam porang. Totalnya sekitar 1 hektare, di lahan pribadi dan lahan sewa dari keluarga,” katanya.

Untuk benihnya, menurut Dudung, ia tidak perlu membeli lagi.

“Benihnya dari kataknya (bubil) tanaman porang yang dipanen kemarin. Jadi tidak perlu dibeli lagi,” ujar Dudung.

Karena benihnya berasal dari kembang biak katak (bubil) menurut Dudung, untuk lahan 1 hektarte, mau tidak mau masa panen harus menunggu dua kali masa dorman ( 2 x 8 bulan).

Pada musim tanam pertengahan tahun 2021 ini menurut Dudung, banyak warga Desa Jelegong yang tertarik bercocok tanaman porang.

“Total kebun porang di Jelegong sekarang mencapai 7 hektare lebih.  Ada  petani pepaya kalifornia sekarang malah beralih jadi nanam porang. Pepaya kalifornianya ditebang,”katanya.

Baca juga: Petani Ciamis Antusias Tanam Porang yang Sedang Tren dan Punya Pasar Ekspor

Sekitar 5 hektare kebun porang tersebut katanya tersebar di 3 dusun  di Desa Jelegong, masing-masing Dusun Walahir, Dusun Sukaresmi dan Dusun Jeelgong.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved