Breaking News:

Keanehan Bumi Ageung Cikidang Cianjur, Luput dari Bom Belanda Meski Bangunan Sekitarnya Hancur

Bupati ke-10 Cianjur, RAA Prawiradireja II, menjabat pada periode1862-1910 atau selama 48 tahun, atau yang paling lama menjabat.

Penulis: Ferri Amiril Mukminin | Editor: Giri
Tribun Jabar/Ferri Amiril Mukminin
Bumi Ageung peninggalan sejarah dari Bupati ke-10 Cianjur, RAA Prawiradireja II. 

TRIBUNJABAR.ID, CIANJUR - Bupati ke-10 Cianjur, RAA Prawiradireja II, menjabat pada periode1862-1910 atau selama 48 tahun, atau yang paling lama menjabat.

Sosoknya disegani oleh Belanda dan merupakan bupati yang paling reformis pertama.

Torehannya memperbolehkan kesenian cianjuran dan gamelan digelar di masyarakat, tak hanya di lingkungan gedung atau rumah pejabat.

Ia juga bekerja sama dengan Tirto Adi Suryo membuat koran pertama di Indonesia dengan nama Sunda Berita.

Koran tersebut menjadi langganan dari 40 bupati dan delapan raja atau sultan.

Hal tersebut dikatakan oleh buyut dari bupati kesepuluh, Pepep Johar (75), yang hingga saat ini tinggal di Bumi Ageung, rumah peninggalan yang sempat menjadi tempat peristirahatan RAA Prawiradireja II.

"Ia dikenal sebagai bupati yang reformis karena semasa kepemimpinannya kesenian cianjuran dan degung dibuka untuk rakyat tidak hanya padaleman khusus kabupaten," ujar Pepep ditemui di Bumi Ageung Cikidang, Cianjur, Senin (16/8/2021) siang.

Pepep mengatakan, bupati kesepuluh tersebut sangat disegani oleh Belanda, meski tidak terjadi perseteruan.

"Mungkin jiwa kepemimpinan ayahnya RAA Kusumaningrat atau Dalem Pancaniti yang terkenal berani karena pernah mengusir wakil residen Belanda dari Cianjur," kata Pepep.

Pepep mengatakan, Cianjur sempat jadi ibu kota karesidenan Priangan yang mencakup wilayah Sukapura, Sumedang, Garut, Bandung, dan Cianjur.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved