Sabtu, 11 April 2026

Wagub Prihatin Banyak Kiai Meninggal Selama Masa Pandemi Covid-19

Wakil Gubernur, Uu Ruzhanul Ulum mengungkapkan keprihatinannya karena banyak Kiai yang meninggal di berbagai Kabupaten/Kota di Jawa Barat yang jumlahn

Tribun Jabar/ Muhamad Syarif Abdussalam
Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum 

TRIBUNJABAR.ID - Wakil Gubernur, Uu Ruzhanul Ulum mengungkapkan keprihatinannya karena banyak Kiai yang meninggal di berbagai Kabupaten/Kota di Jawa Barat yang jumlahnya sudah ratusan orang selama masa Pandemi Covid-19. Hal ini disampaikan Pak Uu – sapaan Wagub Jabar – sehubungan dengan penyampaian meninggalnya tiga anggota kiai dari keluarga besar Pondok Pesantren Miftahul Huda. Tiga Kiai yang meninggal yaitu KH. Muhammad Fathoni Saleh, KH. Khoeruman Azam dan KH. Ali Mustofa yang ketiganya merupakan Dewan Kiai di Pondok Pesantren Miftahul Huda Manonjaya. Pak Uu sebagai anggota komunitas Pondok Pesantren mengaku turut prihatin dengan banyaknya sosok kiai dan masyarakat yang meninggal.

Wagub menyampaikan informasi setelah berbincang dengan tenaga kesehatan mengenai Covid. Faktor terbesar yang memicu meninggalnya seseorang pada pandemi ini, adalah penyakit tidak menular (PTM) yang ada dalam tubuh si penderita. Bisa dikatakan, penderita yang meninggal adalah seseorang yang memiliki riwayat sakit bawaan (komorbid). Melihat hal ini Pak Uu merasa banyak kiai yang mungkin merasa sehat namun sebenarnya tubuhnya tidak sehat sepenuhnya.

Meneruskan informasi dari tenaga kesehatan, Pak Uu selaku cendekiawan muslim menghimbau kepada masyarakat dan kiai untuk bisa menjaga kesehatan. Hal ini supaya menjadi daya dorong untuk keluarga, para santri, dan para simpatisan semua untuk menjaga kesehatan para kiai bersama-sama.

“Jangan memaksakan kiai untuk datang ke suatu lokasi untuk ceramah dan yang lain kalau sedang sakit atau jangan memaksakan untuk bersalaman, untuk datang atau bersilahturahmi pada kiai padahal lagi sakit,” ujar Pak Uu.

Beliau berharap kepada keluarga, simpatisan, pendukung juga bisa turut serta menjaga kiai karena keberadaannya sudah semakin langka. Saat ini semakin sulit untuk menjadi kiai atau guru mursyid karena prosesnya tidak mudah dan tidak tiba-tiba. Masyarakat memiliki legitimasi untuk menyebut seseorang dengan panggilan Kiai atau ajengan karena mengakui ilmu dan akhlak pada seorang tokoh maka sebutan kiai atau ajengan dengan sendirinya bisa melekat pada orang tersebut.

“Jadi tidak bisa, dia ingin disebut ajengan atau kiai tapi tidak memiliki keilmuan agama yang mumpuni,” jelas Pak Wagub.

Dengan penuh rasa taklim, Pak Uu selaku perwakilan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat berharap kepada para kiai untuk bisa menjaga kesehatan dan memeriksakan diri ke tenaga kesehatan apabila merasa sakit. Hal ini disampaikan karena kehilangan kiai tidak mudah terganti, masing-masing kiai memiliki porsi dan posisi masing-masing sehingga umat sangat menunggu kehadiran dan membutuhkan adanya kiai.

“Mudah-mudahan kita berdoa, para kiai yang sudah meninggal husnul khatimah dan ditempatkan yang layak, diterima iman islamnya. Dan yang sekarang masih hidup kita doakan sehat, panjang umur karena kita sebagai umat butuh kehadiran beliau dalam segala aspek kehidupan, dan juga kami Pemerintah butuh para kiai dan para ulama,” pungkasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved