Kelangkaan Terkendali Posko Oksigen Jabar Distribusikan Ribuan Tabung ke Daerah, Ini Perinciannya
Pemprov Jabar melalui Posko Oksigen Jabar telah proaktif dalam upaya memberikan kebutuhan oksigen di setiap rumah sakit untuk pasien Covid-19.
Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Darajat Arianto
Laporan Wartawan TribunJabar.id, Muhamad Syarif Abdussalam
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kelangkaan oksigen di Jawa Barat akibat tren kasus Covid-19 yang meningkat beberapa waktu lalu mulai bisa dikendalikan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Pemprov Jabar melalui Posko Oksigen Jabar telah proaktif dalam upaya memberikan kebutuhan oksigen di setiap rumah sakit untuk pasien Covid-19.
Ketua Harian Posko Oksigen Jabar Hanif Mantiq, mengatakan keluarnya Jawa Barat dari kondisi kelangkaan oksigen berkat berbagai bantuan yang diberikan oleh berbagai pihak.
Salah satunya dari Bank Indonesia Perwakilan Jawa Barat dan PT OKI Pulp & Paper Mills (Sinar Mas Group), yang memberikan 85,8 ton oksigen cair dalam empat iso tank yang dilepas pengirimannya, langsung oleh Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru.
"Kondisinya sudah lumayan sekarang dibanding sebelum-sebelumnya. Sejak kedatangan iso tank dari Sumatera Selatan berpengaruh. Karena dia mengisi ke rumah sakit ke tanki cairnya, dan satunya lagi ke filling station," kata Hanif melalui ponsel, Kamis (5/8).
Saat ini, kata Hanif, ketersediaan tabung oksigen di Posko Jabar sebanyak 860 tabung, setelah ada bantuan dari BI Jabar sebanyak 200 tabung oksigen.
Ia menjelaskan, sampai Posko Oksigen Jabar telah mendistribusikan ribuan oksigen ke rumah sakit yang di Jabar melalui posko yang ada di kabupaten/kota.
"Bisa seribu tabung sehari keluar, kita itu total donasi yang sudah kita terima itu itu hampir 3.000 tabung oksigen. Kalau sekarang di posko ada 800 tabung yang lagi dipinjemin itu 2.200 tabung," katanya.
Mekanismenya, lanjut Hanif, setiap Posko Oksigen Jabar menerima bantuan tabung oksigen, pihaknya membagi bantuan oksigen tersebut dengan adil ke 27 kabupaten/kota.
Selanjutnya, posko yang berada di kabupaten/kota mendistribusikan oksigen tersebut ke rumah sakit daerah. Namun, yang menjadi prioritas adalah rumah sakit yang kebutuhan oksigennya habis dalam waktu 6 jam
"Misalnya ada 270 tabung masing-masing daerah diberikan 10 tabung. Lalu kemudian di kota/kabupaten akan membagi alokasi ke rumah sakit yang dianggap kritis. Diprioritaskan yang habis dalam waktu 6 jam," katanya.
Saat ditanya mengenai permintaan tabung oksigen untuk individual masyarakat, Hanif menjawab bahwa saat ini Posko Oksigen Jabar hanya mendistribusikan untuk membantu kebutuhan oksigen di rumah sakit daerah.
Namun kata dia, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil segera meluncurkan aturan atau program supaya masyarakat bisa meminta bantuan kebutuhan oksigen di Posko Oksigen Jabar, dengan syarat hal tersebut untuk kebutuhan pasien isolasi mandiri (isoman).
"Yang perorangan ini akan segera diluncurkan oleh Gubernur. Itu nanti kalau yang perseorangan intinya nempel di isoman yang datanya ada Pikobar. Masyarakat bisa minta langsung, syaratnya yang isoman," kata Hanif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/posko-oksigen-jabar-bersiap-mengirim.jpg)