Feature

Nadi Kehidupan Perajin Benang Gelasan Kutamandiri Sumedang di Tengah Pandemi,Sehari Dapat Rp 75 Ribu

DI lanskap terbuka di Desa Kutamandiri, Aep Kupluk (46) terlihat sangat serius memperhatikan bentangan benang berwarna mencolok mengambang di udara. 

Penulis: Kiki Andriana | Editor: Giri
Tribun Jabar/Kiki Andriana
Engkos Koswara (30), saat dijumpai di lapak pambuatan gelasan di Desa Kutamandiri, Kecamatan Tanjungsari, Sumedang, Jawa Barat, Sabtu (31/7/2021).  

Risiko Aep, dia mesti turun melintasi kebun ubi dan pesawahan untuk menyambung kembali bentangan benang itu.

Tetapi, selain itu, pekerjaan Aep hanya duduk berfokus pada pelumuran benang dengan cat. 

Untuk dua buah gandul atau gulungan benang besar yang masing-masing bobotnya 2,5 kilogram, Aep perlu waktu dua jam untuk memolesnya dengan cairan cat mengandung serbuk kaca yang halus. 

Kedua benang yang bergerak cepat ke pembentangan itu, sebelumnya secara bersamaan dicelupkan ke dalam cat khusus tersebut. 

Benang yang semula putih dan kemudian basah oleh cat, segera mengering saat kembali ke kincir penggulung yang berputar cepat dimotori mesin pemompa air. 

"Cat ini dibuat encer. Misalnya, untuk dua gendul, perlu cat kayu 1,5 kilogram, bensin 1,5 liter, dan serbuk kaca sebanyak dua kilogram. Diaduk hingga encer dan siap digunakan," kata Aep seraya menyebut nyaris semua jenis warna sering digunakan untuk pembuatan gelasan itu.

Jika tunai mengerjakan proses itu, upah yang akan didapatkan Aep adalah berat benang dikali Rp 5 ribu. 

Untuk dua gendul dengan bobot 5 kilogram, Aep akan mendapatkan Rp 15 ribu.

Dalam sehari, Aep hanya bisa menyelesaikan 6 gendul.

Engkos Koswara, warga kampung Lebak Maja, Kutamandiri, yang duduk di lapak bersebelahan dengan lapak Aep tampak lebih piawai. 

Sebelum pindah ke pembuatan gelasan milik Kokon, Engkos memang mengerjakan pekerjaan yang sama, di lapak milik juragannya yang lain. 

"Di sana (sebelumnya) bangkrut. Pandemi membuat order gelasan menurun. Di sini masih ada order, jadi saya pindah bekerja ke sini," katanya.

Dia baru bekerja tiga bulan untuk Kokon. 

Namun, meski tampaknya piawai, produktivitas Engkos tidak lebih tinggi dari Aep. Sehari, upahnya tetap Rp 75 ribu. 

Gelasan berwarna-warni yang melilit di kincir penggulung kemudian dibawa ke tempat lain tidak jauh dari lapak, untuk direcah ke dalam gulungan-gulungan kecil bernama kelos. 

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved