Breaking News:

Feature

Nadi Kehidupan Perajin Benang Gelasan Kutamandiri Sumedang di Tengah Pandemi,Sehari Dapat Rp 75 Ribu

DI lanskap terbuka di Desa Kutamandiri, Aep Kupluk (46) terlihat sangat serius memperhatikan bentangan benang berwarna mencolok mengambang di udara. 

Penulis: Kiki Andriana | Editor: Giri
Tribun Jabar/Kiki Andriana
Engkos Koswara (30), saat dijumpai di lapak pambuatan gelasan di Desa Kutamandiri, Kecamatan Tanjungsari, Sumedang, Jawa Barat, Sabtu (31/7/2021).  

Lapak berserta bahan baku pembuatan gelasan adalah milik Kokon (68).

Aep, Engkos Koswara (30), dan sejumlah pekerja lainnya hanya hanya bekerja untuk upah sistem borongan. 

"Saya banting setir. Semula hanya nyopir angkot, tetapi pandemi Covid-19 yang berkepanjangan membuat kerja sopir tak bisa diandalkan. Setahun ini saya hidup dari membuat gelasan," kata Aep. 

Pekerjaan membuat benang gelasan susah-susah gampang.

Bagi Aep, hal paling menjengkelkan dalam pekerjaan itu adalah jika bentangan benang yang baru dilumuri cat, putus di kejauhan. 

Risiko Aep, dia mesti turun melintasi kebun ubi dan pesawahan untuk menyambung kembali bentangan benang itu.

Tetapi, selain itu, pekerjaan Aep hanya duduk berfokus pada pelumuran benang dengan cat. 

Untuk dua buah gandul atau gulungan benang besar yang masing-masing bobotnya 2,5 kilogram, Aep perlu waktu dua jam untuk memolesnya dengan cairan cat mengandung serbuk kaca yang halus. 

Kedua benang yang bergerak cepat ke pembentangan itu, sebelumnya secara bersamaan dicelupkan ke dalam cat khusus tersebut. 

Benang yang semula putih dan kemudian basah oleh cat, segera mengering saat kembali ke kincir penggulung yang berputar cepat dimotori mesin pemompa air. 

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved