Breaking News:

Tenaga Kesehatan di Garut Pertanyakan Insentif Penanganan Covid-19 yang Tidak Diterima Penuh

Tenaga kesehatan (nakes) di Kabupaten Garut mengeluh atas jumlah insentif penanganan Covid-19 yang tidak diterima secara utuh.

Penulis: Sidqi Al Ghifari | Editor: Darajat Arianto
Tribun Cirebon/ Ahmad Imam Baehaqi
ILUSTRASI Tenaga kesehatan 

Laporan wartawan Tribunjabar.id, Sidqi Al Ghifari

TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Tenaga kesehatan (nakes) di Kabupaten Garut mengeluh atas jumlah insentif penanganan Covid-19 yang tidak diterima secara utuh.

Irna (27) bukan nama sebenarnya, salah seorang nakes yang bertugas di RSUD dr Slamet Garut mengatakan dirinya hanya menerima insentif sebesar 40 persen dari yang ditetapkan Kementerian Kesehatan.

"Kami para nakes di RSUD dr Slamet Garut kecewa karena insentif yang diterima hanya 40 persen saja," ujarnya saat dihubungi Tribunjabar.

Irna menjelaskan pemberian intensif tersebut tidak adil lantaran beban kerja di rumah sakit rujukan sangatlah besar dibandingkan rumah sakit lainnya.

"Nakes di faskes lain sesuai tapi kok di RSUD dr Slamet Garut yang merupakan rumah sakit rujukan yang setiap menangani pasien Covid-19 cuma nerima 40 persen," ucapnya.

Selain itu beberapa nakes di Garut pun menyerbu akun Instagram Wakil Bupati Garut Helmi Budiman yang sebelumnya mengunggah informasi mengenai insentif untuk para nakes yang bertugas di RSUD dr Slamet Garut.

"Alhamdulillah insentif untuk para Nakes baik yang berada di Puskesmas maupun Di Rumah Sakit Umum dr Slamet Sudah Cair," tulis Helmi dalam unggahannya.

Sontak unggahan tersebut direspons beragam komentar oleh pengguna Instagram lainnya.

"Sedang berduka pa wabup.. Karena yg masuk rekening tidak sesuai yg ditetapkan kemenkes’, tulis akun @azhar_avantgardemedicalgarut.

Humas RSUD dr Slamet Garut, Cecep Ridwan mengatakan pihaknya akan melakukan pemeriksaan terkait pengurangan insentif tersebut.

"Saya lagi sakit jadi belum dapat info, nanti sama saya dikroscek," ucapnya Cecep saat dimintai konfirmasi oleh Tribunjabar.id.

Pencairan insentif tersebut sudah mulai disalurkan ke rekening masing-masing penerima sejak Selasa (27/7) dengan nominal Rp 8 juta rupiah untuk Dokter Spesialis, Rp 4,7 juta untuk dokter umum, Rp 3 juta rupiah untu perawat dan Rp 2.55 juta untuk nakes lain. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved