Breaking News:

Jadi Desa Miliader, Kurban di Sukaurip Indramayu Melonjak Drastis, Ketua DKM Sebut Ini Prestasi

Jumlah hewan kurban di Desa Sukaurip, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu melonjak drastis pada Hari Raya Idul Adha 1442 Hijriah tahun ini.

Penulis: Handhika Rahman | Editor: Darajat Arianto
TRIBUNCIREBON.COM/HANDHIKA RAHMAN
Penyembelihan hewan kurban di Desa Sukaurip, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu, Rabu (21/7/2021). 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Handhika Rahman

TRIBUNJABAR.ID, INDRAMAYU - Jumlah hewan kurban di Desa Sukaurip, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu melonjak drastis pada Hari Raya Idul Adha 1442 H tahun ini.

Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Jami Al-Ikhlas Sukaurip, Maftuhin mengatakan, pada tahun ini jumlah sapi yang dikurbankan sebanyak 23 ekor dan kambing 35 ekor.

"Ini suatu prestasi, karena dari dulu sampai sekarang, ini adalah penambahan paling banyak," ujar dia kepada Tribuncirebon.com, Rabu (21/7/2021).

Masih disampaikan Maftuhin, pada tahun sebelumnya, kurban di desa setempat hanya 13 ekor untuk sapi dan 24 ekor untuk kambing.

Atau dengan kata lain, pada Hari Raya Iduladha tahun ini ada penambahan sebanyak 10 ekor untuk sapi dan 11 ekor untuk kambing.

Desa Sukaurip sendiri diketahui juga menjadi salah satu dari 6 desa miliader yang ada di Kabupaten Indramayu.

Pasalnya, belum lama ini, warga di sana baru menerima uang ganti rugi dari pembebasan lahan karena terdampak Pembangunan Proyek Petrochemical Complex Jabar di Kabupaten Indramayu.

Rata-rata uang ganti rugi yang diterima warga bervariasi, mulai paling kecil ratusan juta rupiah hingga miliar rupiah per orang.

Penyembelihan hewan kurban di Desa Sukaurip, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu, Rabu (21/7/2021).
Penyembelihan hewan kurban di Desa Sukaurip, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu, Rabu (21/7/2021). (TRIBUNCIREBON.COM/HANDHIKA RAHMAN)

Dalam hal ini, Maftuhin tidak memungkiri dampak pembebasan lahan tersebut ikut berimbas pada meningkatnya hewan kurban di desa setempat.

Hanya saja, dia menyampaikan, faktor yang paling mempengaruhi adalah karena keinginan masyarakat itu sendiri dan kepercayaan kepada panitia kurban.

"Yang jelas dari 23 sapi itu tidak semua yang terdampak pembebasan lahan, masyarakat biasa pun ada yang ikut berkurban. Ini juga jadi suatu kebanggaan bagi kami," ucapnya. (*)

Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved