Petani Ikut Terpuruk, Harga Gabah Terus Anjlok, Padahal di Musim Paceklik

Harga gabah kering giling di Kabupaten Majalengka sejak akhir tahun lalu tidak pernah beranjak naik, walaupun musim paceklik

Penulis: Eki Yulianto | Editor: Siti Fatimah
Para petani di Kelurahan Simpeureum, Kecamatan Cigasong, Kabupaten Majalengka sedang memanen padi. Harga gabah kering giling di Kabupaten Majalengka sejak akhir tahun lalu tidak pernah beranjak naik, walaupun musim paceklik. 

TRIBUNCIREBON, MAJALENGKA- Harga gabah kering giling di Kabupaten Majalengka sejak akhir tahun lalu tidak pernah beranjak naik, walaupun musim paceklik. Bahkan ketika puncak musim panen, harga melorot tajam.

Sehingga dengan harga gabah tertinggi hanya mencapai Rp 450.000 - Rp 460.000 per kwintal, petani harus merugi karena modal yang dikeluarkan cukup besar.

Terlebih ketika terjadi kelangkaan pupuk atau petani yang tidak memiliki kartu tani dan tidak terdaftar di Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) hingga petani harus membeli pupuk non subsidi seharga Rp 600.000 per kwintal.

Baca juga: Dedi Mulyadi Minta Pemerintah Segera Turunkan Dana Serap Gabah Petani, Sudah Mau Musim Tanam

Karena penyalur pupuk tidak bersedia melayani pembelian pupuk bersubsidi.

“Harga gabah sudah lama hanya Rp 450.000 per kwintal. Tidak bisa naik sama sekali, padahal modal tani padi besar. Makanya petani padi mah hanya memutarkan uang tanpa upah,” ujar Sri (40) petani asal Kelurahan Simpeureum, Kecamatan Cigasong, Kabupaten Majalengka, Selasa (20/7/2021).

Menurutnya, dengan harga gabah Rp 450.000 per kwintal, petani hanya mendapatkan upah sebesar Rp 6.000 per hari.

Karena modal yang dikeluarkan mencapai sekitar Rp 1.610.000.

Jumlah itu belum termasuk harus mengurus air, jika saluran mampet atau bagi giliran yang harus disusul ke wilayah Maja dengan jarak belasan kilometer.

Baca juga: Satker Penyerapan Gabah Diterjunkan Bulog Indramayu, Upaya Stabilkan Harga Gabah yang Anjlok

Kemudian untuk biaya traktor mencapai Rp 300.000, mencangkul Rp 200.000, pupuk Rp 60.000, obat pestisida Rp 200.000, upah menyiangi dengan pekerja 4 orang selama dua hari Rp 240.000, bibit padi sebanyak 7 kg seharga Rp 70.000.

Sedangkan hasil panen gabah jika kualitas bagus hanya 5 kwintal.

Sebaliknya jika diserang hama, maka paling diperoleh hanya 3 kwintal.

“Jika panen 5 kwintal dengan harga Rp 450.000 maka pendapatan hanya Rp 2.250.000. Sedangkan modal lebih dari Rp 1.600.000. Apalagi kalau dihitung setiap hari harus ke sawah untuk melihat air,” ucapnya.

Aef (45) petani di Desa Panyingkiran malah menyebutkan, kerugian cukup besar karena harga gabah di wilayahnya lebih rendah, dengan hanya Rp 430.000-Rp 440.000 per kwintal.

Selain kerugian akibat harga murah, di wilayahnya areal sawah kerap kebanjiran seperti yang dialami saat MT rendeng kemarin sehingga tanaman rusak atau kekeringan disaat intensitas hujan mulai rendah.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved