PPKM Darurat
DPRD Jabar Minta PPKM Darurat Dievaluasi, Kasus Covid-19 Terus Meningkat, Nakes Sudah Kewalahan
PPKM Darurat harus dievaluasi efektivitasnya. Ini karena kasus Covid-19 terus meningkat, sementara nakes sudah kewalahan.
Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: taufik ismail
Laporan Wartawan TribunJabar.id, Muhamad Syarif Abdussalam
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Daddy Rohanady meminta pemerintah mengevaluasi efektivitas Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang telah berlangsung hampir dua pekan, 3-20 Juli 2021.
Hal ini, kata Daddy, terkait dengan peningkatan kasus Covid-19 yang masih terjadi walaupun diberlakukan PPKM Darurat, serta kewalahan yang dialami sejumlah tenaga kesehatan dalam merawat pasien Covid-19.
"Tidak sedikit tenaga kerja kesehatan diberitakan mengundurkan diri. Mereka kelelahan karena melayani pasien sejak setahun lalu. Di sisi lain, gelombang pasien yang masuk sudah mengantre. Padahal, ruang perawatan yang ada sudah kewalahan," kata Wakil Ketua Fraksi Gerindra tersebut melalui ponsel, Minggu (18/7/2021).
Ketersediaan oksigen, katanya, memang mulai diantisipasi, obat-obatan pun mulai dipasok.
Namun demikian, jumlah APD masih harus ditambah dan ruang perawatan di beberapa wilayah harus diusahakan juga untuk ditambah.
"Urusan nakes tak bisa diabaikan. Katakanlah semua tersedia, semisal obat, oksigen, APD, ruang rawat. Kalau nakesnya tidak ada atau sangat tidak mencukupi, apa jadinya," kata Daddy.
Daddy mengatakan memang sempat ada kesepakatan bersama di tingkat pusat untuk menenggulangi ketersediaan nakes.
Namun, hingga kini, hal itu belum dieksekusi. Padahal, situasi sudah begitu mendesak.
Betapa tidak, setelah setahun lebih bergelut, pasti para nakes mulai kelelahan.
Selain itu, mereka juga ada yang terpapar sehingga ada yang harus isolasi mandiri atau dirawat. Bahkan, tidak sedikit yang kemudian meninggal dunia.
"Beban berat pekerjaan seperti itu pasti memberi tekanan yang tidak ringan kepada nakes secara pribadi maupun keluarganya. Jangan sampai mereka masih harus memikirkan urusan yang tidak perlu mereka pikirkan," katanya.
Ujung-ujungnya, katanya, tidak aneh kalau lantas banyak pasien yang dinilai lambat tertangani.
Bahkan, instalasi gawat darurat (IGD) beberapa rumah sakit terlihat membeludak. Akhirnya, pasien lebih memilih isolasi mandiri.
Pihak rumah sakit, katanya, bukan menolak pasien, tetapi hanya karena jumlah pasien yang membeludak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ilustrasi-corona.jpg)