Breaking News:

Suhu Udara Lebih Dingin Karena Fenomena Bediding di Pulau Jawa, Ini yang Harus Dilakukan

Belakangan Anda merasa suhu udara lebih dingin pada malam hari atau pagi hari? Ternyata, ada fenomena perubahan cuaca di saat puncak musim kemarau

Penulis: Eki Yulianto | Editor: Mega Nugraha
Tribun Jabar / Eki Yulianto
Wisata Terasering di Argapura Kabupaten Majalengka yang berada di dataran tinggi. 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto

TRIBUNCIREBON, MAJALENGKA- Belakangan Anda merasa suhu udara lebih dingin pada malam hari atau pagi hari? Ternyata, ada fenomena perubahan cuaca di saat puncak musim kemarau. Fenomena itu disebut fenomena bediding.

Hal itu disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kertajati Majalengka, Jumat (16/7/2021). Menurut Prakirawan BMKG Kertajati, Ahmad Faiz Izyn bahwa suhu udara yang belakangan ini dirasa semakin dingin disebabkan adanya fenomena bediding.

Disampaikannya, fenomena tersebut tak hanya terjadi di Pulau Jawa termasuk di Majalengka, melainkan juga terjadi di Bali, NTB dan NTT.

Baca juga: Waspada Angin Kumbang dari Gunung Ciremai Terjang Majalengka, Ini Yang Harus Dilakukan

"Ya itu fenomena Bediding. Akibatnya, suhu di beberapa wilayah Indonesia terutama bagian selatan khatulistiwa (Pulau Jawa dan Bali Nusa Tenggara) terasa lebih dingin, khususnya pada malam hari hingga pagi hari," ujar Kang Faiz sapaan akrabnya, Jumat (16/7/2021).

Masih dijelaskan dia, bahwa fenomena bediding itu biasa terjadi pada bulan Juli atau puncak musim kemarau. Saat itu, wilayah Australia berada pada periode musim dingin.

"Tekanan udara tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa dari Australia menuju Indonesia atau disebut Monsoon dingin Australia."

"Bahkan di daerah Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah berpotensi terjadi embun es yang dikira salju oleh sebagian orang," ucapnya.

Menghadapi fenomena bediding, pihaknya memiliki beberapa tips agar masyarakat tetap fit tengah masa pandemi Covid-19. Yakni berisitirahat teratur dan memakan makanan yang bergizi.

"Konsumsi makanan bergizi dan istirahat yang cukup. Hindari aktivitas yang berlebihan dan membuat lelah," jelas dia.

Sementara, menurut keterangan warga asal Kecamatan Argapura, Mulyadi (44) bahwa pada pagi hari ini suhu udara di wilayahnya mencapai 18 derajat celsius. Hal itu merupakan kejadian yang jarang terjadi meski daerah tersebut dataran tinggi yang ada di Majalengka.

Baca juga: Belajar Tatap Muka di Majalengka Ditunda, MPLS Pun Digelar Secara Daring, Ini Cara Melihat Materinya

"Jarang si, biasanya 22 derajat atau paling dinginnya 20. Tapi pagi ini 18 derajat Celcius, saya lihat di hp tadi," katanya.

Kendati demikian, ia tidak melihat adanya embun yang mengeras atau disebut embun es. Hal itu kemungkinan disebabkan adanya tiupan angin yang begitu kencang di wilayah tersebut.

"Tidak ada si (embun es) mungkin ketiup angin. Cukup kencang soalnya," ujar Mangku sapaan akrabnya.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved