Vaksin Moderna Diklaim Efektif Cegah Resiko Buruk Tertular Covid-19 Varian Delta
Covid-19 varian delta disebut-sebut jadi penyebab melonjaknya kasus Covid-19 di Indonesia selama Juni 2021.
TRIBUNJABAR.ID, MASSACHUSETTS- Covid-19 varian Delta disebut-sebut jadi penyebab melonjaknya kasus Covid-19 di Indonesia selama Juni 2021.
Produsen vaksin Moderna, mengklaim bahwa vaksin Moderna efektif mencegah resiko buruk dan kematian pada pasien Covid-19 varian Delta.
Baca juga: Cerita Susi Pudjiastuti Pakai Ivermectin untuk 8 Karyawan Positif Covid-19, Begini Hasilnya
Dikutip dari laman Sputnik News, Rabu (30/6/2021), perusahaan yang berbasis di Massachusetts, Amerika Serikat (AS), mengumumkan dalam rilis resmi bahwa vaksin mRNA diklaim berhasil menghasilkan antibodi penawar setelah pemberian dua dosis.
Klaim tersebut didasarkan pada pengujian terhadap strain delta, beta dan eta. Namun, mereka mencatat bahwa vaksin tersebut tidak terlalu efektif terhadap Covid-19 varian beta dari Afrika Selatan.
"Ketika kami berusaha untuk mengalahkan pandemi, sangat penting bagi kami untuk proaktif saat virus ini berkembang. Data baru ini mendorong dan memperkuat keyakinan kami bahwa vaksin Moderna Covid-19 harus tetap protektif terhadap varian yang baru terdeteksi," kata CEO Moderna, Stéphane Bancel.
Pengumuman itu muncul saat hari yang sama saat vaksin Moderna diberi otorisasi penggunaan darurat di India saat negara di Asia Selatan itu mengalami lonjakan kasus Covid-19.
Baca juga: Mau Ikut Vaksinasi Covid-19? YUK Daftar Dulu ke Sini untuk Vaksin di UMB
Covid-19 varian delta ini pertama kali ditemukan di India. Sejak saat itu menjadi salah satu strain yang lebih mengkhawatirkan hasil mutasi SARS-CoV-2.
Saat ini, Covid-19 varian delta ditemukan di 92 negara dan diprediksi jadi strain Covid-19 yang dominan karena temuan kasusnya berlipat ganda.
Sementara itu, di Amerika Serikat, Covid-19 varian delta menyumbang 20 persen kasus dari total kasus baru.
Izin Darurat Vaksin Sinovac di Indonesia
Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberikan izin penggunaan darurat untuk vaksin Sinovac dari China dan hingga saat ini sudah digunakan oleh warga.
"Pada tanggal 5 Februari 2021 kemarin Badan POM telah mengeluarkan persetujuan penggunaan atau emergency use authroziation vaksin CoronaVac untuk usia di atas 60 tahun," kata Kepala BPOM, Penny Lukito, melalui konferensi pers virtual, Minggu (7/2/2021).
Sama seperti vaksinasi pada usia dewasa, vaksin Sinovac juga diberikan sebanyak dua dosis pada orang usia lanjut. Namun, dengan selang waktu 28 hari.
Dalam menerbitkan izin penggunaan darurat itu, BPOM mempertimbangkan hasil uji klinis fase 2 di China dan fase 3 di Brasil terhadap Sinovac. Hasil uji klinis terhadap 400 lansia di China menunjukkan bahwa vaksin Sinovac meningkatkan imunogenisitas atau kadar antibodi yang baik.
"Setelah 28 hari pemberian dosis kedua antibodi masih tinggi di 97,98 persen," ujar Penny. Selain itu, berdasarkan hasil uji klinis, terbukti bahwa tidak ada efek samping serius dari penggunaan vaksin Sinovac terhadap lansia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/vaksin-covid-19-pfizer-sinovac-moderna-dan-astrazeneca.jpg)