Breaking News:

Pedagang Kaki Lima di Subang Harus Tutup Tempat Usaha Lebih Awal, Petugas Gelar Patroli

Jam operasional pedagang kaki lima di Subang dibatasi. Pembatasan tersebut sesuai dengan surat edaran Bupati Subang per 16 Juni 2021.

Penulis: Irvan Maulana | Editor: Giri
Tribun Jabar/Irvan Maulana
Petugas gabungan sedang menertibkan pedagang kaki lima dalam rangka perpanjangan PPKM di Alun-Alun Subang, Sabtu (19/6/2021). 

Laporan Kontributor TribunJabar.id Subang, Irvan Maulana

TRIBUNJABAR.ID, SUBANG - Jam operasional pedagang kaki lima di Subang dibatasi. Pembatasan tersebut sesuai dengan surat edaran Bupati Subang per 16 Juni 2021 tentang perpenjangan ke-10 pelaksanaan pembatasan kegiatan masyarakat dalam rangka penanganan Covid-19 di Kabupaten Subang.

Petugas gabungan rutin melakukan patroli pada pukul 17.00 WIB dan pukul 21.00 WIB guna mengimbau masyarakat untuk melakukan pembatasam kegiatan maupun aktivitas usaha.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasatpol PP) Kabupaten Subang, Dikdik Solihin, mengatakan, pembatasan tersebut juga berlaku untuk aktivitas pasar tradisional, restoran atau rumah makan, minimarket hingga supermarket.

"Kita lakukan patroli dua kali sehari, patroli pertama itu pukul 17.00 yang kedua nanti pukul 21.00. Pembatasan ini berlaku untuk semua kegiatan termasuk aktivitas usaha," ujar Didik kepada Tribun di sela aktivitas penutupan oprasional pedagang kaki lima di Alun-Alun Subang, Sabtu (19/6/2021).

Dia mengatakan, hal ini dilakukan dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19 dan menekan angka kenaikan kasus positif Covid-19 di wilayah Kabupaten Subang.

"Kami berharap semua patuhi edaran. Bagi pedagang yang berjualan, kami tidak melarang, tapi kami hanya batasi sampai pukul 17.00. Besok boleh berdagang lebih pagi lagi karena harus tutup sore-sore. Masyarakat diharapkan juga agar selalu menerapkan protokol kesehatan," kata dia.

Seorang pedagang kaki lima di Alun-Alun Subang, Deti (25), mengatakan, dia mulai berjualan pada pukul 09.00, biasanya tup pada pukul 21.00.

Karena harus tutup pukul 17.00, dia mengaku memengaruhi hasil usahanya.

Baca juga: Gelandang Asing Baru Persib Bandung Mohammed Rashid Menyukai Hal Ini di Luar Sepak Bola

"Kalau biasanya sehari bisa sampai Rp 500 ribu tapi itu pun kebanyakan malam," kata Deti.

Baca juga: Penutupan Jalan Hanya di Dalam Kota Bandung, Ini Alasan Pintu Tol Tidak Ikut Ditutup

Kendatu demikian, Deti juga memahami bahwa dalam masa pelaksaan PPKM, masyarakat yang beraktivitas di luar rumah juga lebih sepi.

Jadi dia mengaku pembatasan waktu berdagang tidak terlalu memberatkannya. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved