Anggota DPR Ini Minta Polisi Usut Penyebab Kematian Wakil Bupati Sangihe yang Janggal
Kematian Wakil Bupati Sangihe Helmun Lontong disebut sejumlah pihak masih janggal.
TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Kematian Wakil Bupati Sangihe Helmun Lontong disebut sejumlah pihak masih janggal.
Wakul Bupati Sangihe Helmud Lontong meninggal di dalam pesawat saat perjalanan pulang dari Bali menuju Manado Via Makassar.
Baca juga: Profil Wakil Bupati Sangihe Helmud Hontong yang Meninggal, Ini Kronologi Sampai Wafat di Pesawat
Peristiwa kematian Helmud Lontong janggal karena sebelumnya dia tegas menolak izin tambang emas di daerahnya.
"Makanya kami minta dari pihak kesehatan bisa mengetahui penyebab kematiannya. Kalau memang ada sesuatu diduga faktor lain tentu kita minta aparat penegak hukum untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan," Anggota Komisi II DPR RI Fraksi PAN Guspardi Gaus.
Ia juga mengucapkan belasugkawa atas meninggalnya Wakil Bupati Kepulauan Sangihe.
Menurutnya, penyelidikan atas sebab kematian Helmud Lontong jadi perlu untuk menjawab kejanggalan atas kematiannya di dalam pesawat terbang.
"Pihak kepolisian harus mengumpulkan petunjuk dan bukti dan melakukan penyelidikan mendalam atas meninggalnya Wakil Bupati Sangihe," ujar Guspardi.
Baca juga: Sekda Ini Bersama Karyawan BUMD Diamankan Saat Karaoke Bersama Wanita, Diduga Ada Pil Ekstasi
Ia juga meminta aparat berwajib untuk menyelidiki penyebab kematian Helmud Lontong untuk menghindari fitnah.
"Untuk itu, dengan masuknya pihak kepolisian dalam menyelidiki peristiwa kematian Wakil Bupati Sangihe ini, tentu harus dihormarti oleh semua pihak," ucapnya.
"Dan pihak-pihak yang memiliki informasi terkait dapat memberilan keterangan untuk membantu pekerjaan kepolisian. Sehingga akan dapat menyingkap apa yang sebenarnya terjadi. Guna menghindari sak wasangka dan rumor di tengah masyarakat," pungkas anggota Baleg DPR RI tersebut.
Ajudan Helmud, Herman Rivaldi Kontu menyebut bahwa Helmud sebelum meninggal sempat merasakan pusing dan sempat dipijat dengan melumuri bagian belakang dan leher dengan minyak gosok.
Setelah dipijat, Helmud tidak merespon. Bahkan, wakil bupati itu mengeluarkan darah dari hidung dan mulut.
Baca juga: Ratusan Makam di TPU Cikadut Dibongkar, Dianggap Covid-19 Padahal Ada yang Sakit Diabetes
"Sekitar 5 menit itu saya lihat Bapak langsung tersandar. Saya panggil dan kore-kore (colek) namun sudah tidak ada respons lagi. Saya langsung panggil pramugari, namun tetap Bapak tidak ada respons. Kemudian keluar darah lewat mulut. Tak lama kemudian darah keluar dari hidung," kata Harmen Kamis (9/6/2021).
Helmud sendiri sempat mengirim surat pembatalan izin tambang PT Tambang Mas Sangihe ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) . Surat itu disebut dikirim atas inisiatif pribadi Helmud.
Kopi surat tersebut beredar di media sosial (medsos) setelah Helmud meninggal dunia. Pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Sangihe telah mengetahui surat tersebut.