Breaking News

Megawati Dapat Bintang Jasa dari Rusia, Mengingatkan Hangatnya Hubungan Indonesia-Uni Soviet

Megawati Soekarnoputri menerima penghargaan Bintang Jasa Persahabatan dari pemerintah Rusia yang diwakili oleh Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Rabu.

Editor: Hermawan Aksan
KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
Megawati Soekarnoputri menerima penghargaan Bintang Jasa Persahabatan dari pemerintah Rusia yang diwakili oleh Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Georgievna Vorobyova, Rabu (2/6/2021). 

Ketika itu, Bung Karno mengutus Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) sekaligus Menteri Pertahanan AH Nasution ke Moskow untuk memperoleh alutsista.

Kedatangan Nasution ke Soviet ternyata telah dinanti Khrushchev.

Sang perdana menteri langsung mengurus kebutuhan pengadaan alutsista tersebut.

Dari kunjungan Nasution ke Soviet itu, Indonesia membawa pulang alutsista senilai 450 juta dolar Amerika Serikat (AS).

Alutsista tersebut didapat dari Soviet dengan skema utang berbunga rendah dan jangka waktu yang panjang.

Berkat bantuan Soviet, kala itu Indonesia menjadi negara dengan kekuatan militer yang ditakuti.

Sebabnya, selain mendapat alutsista dalam jumlah besar, alutsista tersebut merupakan yang termutakhir di zamannya.

Beberapa alutsista yang didapat Indonesia dari bantuan Soviet tersebut di antaranya 12 kapal selam, sejumlah pesawat jet tempur, serta kapal perang lainnya.

Pembangunan Gelora Bung Karno

Bantuan Soviet kepada Indonesia tak sebatas di sektor militer.

Soekarno bahkan meminta agar Uni Soviet membantu pembangunan stadion di Jakarta untuk menunjang perhelatan Asian Games IV pada 1962.

Ketika itu, Indonesia diwajibkan membangun sebuah multi-sports kompleks, yang kala itu belum terbayangkan seperti apa wujudnya.

Soviet pun menyanggupi permohonan Bumg Karno.

Pembangunan GBK didanai melalui pinjaman lunak Uni Soviet senilai 12,5 juta dolar AS.

Uni Soviet juga mengirimkan insinyur dan teknisinya untuk merancang Stadion Utama GBK.

Khrushchev pun turut hadir dalam pencanangan tiang pancang pertama pada 8 Februari 1960.

Tujuh tahun kemudian setelah lawatan Khrsuhchev ke Indonesia, Bung Karno dilengserkan.

Tahun 1967 pun menjadi awal renggangnya hubungan Indonesia dan Soviet lantaran saat itu Presiden Soeharto, yang menggantikan Bung Karno, sangat anti dengan komunisme.

Hubungan diplomatik kedua negara kembali terjalin setelah Soviet runtuh dan berganti menjadi Republik Federasi Rusia.

(kompas.com)

Sumber: Kompas
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved