Harga Kedelai Naik
Pemkot Bandung Upayakan Operasi Pasar Kedelai, Harga Terus Naik tapi Pasokan Aman
Pemerintah Kota Bandung mengatakan akan segera berkoordinasi dengan Bulog agar secepatnya melakukan operasi pasar kedelai.
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pemerintah Kota Bandung mengatakan akan segera berkoordinasi dengan Bulog agar secepatnya melakukan operasi pasar kedelai.
Operasi pasar dinilai mendesak sebagai upaya menekan kembali kenaikan harga yang terus terjadi sejak Ramadan lalu.
Harga kedelai, yang semula hanya berkisar Rp 9 ribuan per kilogram, terus melejit hingga Rp 10 ribuan per kilogram, bahkan lebih.
Baca juga: Meski Harga Kedelai Naik, Sebagian Pengusaha Tahu Sumedang Tak Akan Mogok Produksi
"Untuk operasi pasar, kami memang harus berkoordinasi dengan Bulog karena kewenangan operasi pasar ada di sana. Jadi, kami harus koordinasi dulu," ujar Elly Wasliah, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Bandung, kepada Tribun Jabar di Balai Kota Bandung, Kamis (27/5/2021).
Elly mengatakan, Kemendag telah memastikan bahwa stok kacang kedelai sebenarnya dalam kondisi yang aman.
"Namun, memang harganya saja yang bergerak naik," ujarnya.
Elly mengatakan, ada beberapa faktor yang membuat harga kedelai naik sejak April lalu.
Salah satu faktornya adalah Amerika Serikat, yang selama ini menjadi penyuplai utama kedelai, belum memasuki masa panen.
Kedua, ada permintaan pasokan dari Cina yang lebih dari jumlah rata-rata.
"Cina itu pada bulan April mengajukan permintaan yang di atas rata-rata biasanya, itu jadi kedelai dunia meningkat," ujar Elly.
Selain mengupayakan operasi pasar, kata Elly, Pemkot Bandung juga akan mencoba menstabilkan harga kedelai dengan memutus mata rantai distribusinya.
Dengan demikian, nantinya distribusi kacang kedelai akan langsung terhubung dengan produsen tahu dan tempe.
"Memutus mata rantai supaya tidak ada lagi yang menyebabkan harga mahal. Itu salah satu upayanya," katanya.
Terkait mogok produksi dan berjualan yang rencananya akan kembali dilakukan para produsen tahu dan tempe se-Bandung Raya selama tiga hari pada 28-30 Mei, Elly meminta masyarakat untuk tidak khawatir.
Sebab, menurutnya, tidak semua perajin tahu dan tempe akan melakukan aksi mogok produksi.
"Tapi ini juga sedang kami konfirmasi. Enggak usah khawatir," ujarnya.
Elly berharap para perajin tahu dan tempe mengurungkan rencana mereka untuk mogok.
"Harga tahu atau tempenya dinaikkan saja, disesuaikan dengan harga kacang kedelai," ujar Elly.
Eli mengatakan, di Kota Bandung saat ini terdapat 439 perajin tahu dan tempe.
Sebanyak 410 di antaranya di Cibuntu. (nazmi abdurrahman/tiah sm)
