Minggu, 31 Mei 2026

Webinar Nasional IDIK

Kepala BNPT, Boy Rafli: Islam Bukan Teroris dan Teroris Bukan Islam

Kepala BNPT Komjen Pol Dr Boy Rafli Amar, M.H, menegaskan bahwa aksi teroris yang marak terjadi itu bukan ajaran Islam

Tayang:
Editor: Arief Permadi
ISTIMEWA
Kepala BNPT Komjen Pol Dr Boy Rafli Amar, M.H pada webinar Nasional yang diselenggarakan oleh Ikatan Doktor Ilmu Komunikasi (IDIK) UNPAD, Sabtu (7/5). Ia menegaskan bahwa aksi teroris yang marak terjadi itu bukan ajaran Islam. 

“Jihad itu maknanya perjuangan dengan sungguh-sungguh, dan tidak diartikan perang. Perlu pemaknaan yang jelas agar tidak sesat dalam memaknai kata jihad dalam Al Quran,” tegas Amirsyah.

Islam itu agama Thabat (tetap) yang mendasarkan pada aqidah, ibadat, ketentuan hukum Syariah, halal, haram, wajib, makruh. Islam juga agama yang Tawazun artinya memperhatikan keseimbangan. Setidaknya ada beberapa ayat yang menegaskan bahwa Islam datang untuk kebaikan semua umat manusia, diantaranya surah Al Baqarah 143, Saba 28, Ali Imron 110 dan An Nahl 25.

Prof Asep Saeful Muhtadi menjelaskan, paham radikal maupun teroris itu melakukan pemaknaan kata jihad sesuai dengan keinginan kelompoknya sendiri. Padahal, untuk memaknai satu ayat dalam Al Quran, itu harus dilakukan oleh orang-orang yang punya orotitas tinggi, yakni kaum alim ulama, ustad, tokoh agama.

“Hal itu agar tidak terjadi kesalahan dalam memaknai kata Jihad,” ungkap Prof Asep.

Umat Islam, menurut Prof Asep Saeful, adalah orang yang menjadi pengikut Nabi Muhammad. Karena itu perlu dipertanyakan kalau ada aksi teror dengan kekerasan yang dilakukan dengan mengaku sebagai Islam. Apakah nabi Muhammad pernah mengajarkan aksi bom bunuh diri, tentu jawabnya tidak.

Prof Asep Samu, panggilan akrab, prof Asep Saeful Muhtadi menambahkan, pemerintah juga perlu hati-hati dalam menyampaikan berita tentang aksi teroris ini, jangan sampai menimbulkan sakit hati umat Islam. Masyrakat juga perlu hati-hati dalam menyikapi pesan-pesan jihad atau ajakan perang di media sosial.

“Cermati dulu, cerna dulu, dan pahami dulu, jangan langsung dipercaya apalagi disebarkan,” kata prof Asep Samu.

Webinar yang dimulai pukul 10.00 wib, dan diagendakan berakhir pada 12.00 wib, ini karena banyaknya penanya dari para narasumber, maka sedikit berjalan molor 15 menit. Sebelum Webinar diakhiri, moderator Dr Pitoyo, M.IKom menyampaikan bahwa tindaklajut dari Webinar ini, IDIK UNPAD akan menjalin kerjasama dengan BNPT dan MUI dalam menyelenggrakan Literasi Antiradikalisme dan Anti Terorisme.

“Kami ucapkan terimakasih kepada IDIK yang memberikan pencerahan melalui acara ini, dan kami dengan senang hati menjalin kerjasama dengan IDIK,” jelas Boy Rafli mengakhiri pemaparannya.

Dr Zakiyuddin mengatakan, webinar ini sangat menarik sehingga pesertanya dapat bertahan hingga acara berakhir. Semoga setelah webinar ini IDIK UNPAD menindaklanjuti kerjasama dengan BNPT dan MUI guna menyusun program literasi antiradikalisme dan antiterorisme. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved