Ini Masjid Tertua di Sumedang, Ada Cerita Tragedi Berdarah Saat Idul Fitri Tahun 1678

Masjid tertua di Sumedang ini memiliki cerita adanya tragedi berdarah saat Idul Fitri tahun 1678

Penulis: Hilman Kamaludin | Editor: Siti Fatimah

TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Masjid Besar Tegal Kalong yang tercatat sebagai cagar budaya dan menjadi masjid tertua di Kabupaten Sumedang  menyisakan cerita kelam yang hingga saat ini sudah menjadi cerita rakyat.

Konon, berdasarkan sejarah dan cerita rakyat bahwa pada masa pemerintahan Pangeran Rangga Gempol II atau Bagus Weruh pada tahun 1633-1656, mulai terjadi perpindahan pemerintahan dari Tenjolaut ke Tegalkalong.

Saat itu, kekuasaan pemerintahan dilanjutkan oleh putra Pangeran Rangga Gempol II yakni, Pangeran Rangga Gempol III atau Pangeran Panembahan yang saat itu mulai menciptakan banyak cerita sejarah.

Baca juga: Larangan Mudik Untungkan Pelaku Usaha Ini, Bisa Pasok Hingga Jabodetabek

Ketua DKM Masjid Besar Tegalkalong, H Bachren Syamsul Bachri, mengatakan, masa pemerintahan Pangeran Rangga Gempol III, terhitung yang paling lama jika dibandingkan dengan masa pemerintahan sebelumnya.

"Masa pemerintahan beliau mencapai 50 tahun, sehingga dengan kurun waktu 50 tahun tersebut, tentu banyak peristiwa penting yang diukir dan dilakukan beliau," ujar Bachren yang sudah membaca tentang sejarah tersebut saat ditemui di Masjid Besar Tegalkalong, Senin (26/4/2021).

Ia mengatakan, Pangeran Rangga Gempol III saat itu mendapat julukan 'Senopati Ing Ngalogo Sayidin Panotogomo' yang artinya panglima dalam peperangan, pemimpin dan penata keagamaan  menguasai pemerintahan saat Mataram mulai lemah selepas wafatnya Sultan Besar pada tahun 1645.

Baca juga: Ada Lagi Desa Miliarder di Subang, Warga Dapat Ganti Untung Proyek Bendungan, Langsung Borong Motor

Disaat itulah, masa pemerintahan Sumedanglarang, bangkit dan kembali berkuasa, bahkan Kompeni pun menganggap, bahwa Sumedanglarang sudah menjadi kerajaan yang merdeka.

"Pada masa pemerintahan Pangeran Rangga Gempol III itu, tampaknya Masjid Tegalkalong dibangun," katanya.

Setelah masjid terbangun, kata dia, konon pemerintah Sumedanglarang diserang dari arah barat oleh Tentara Banten yang dipimpin Cilik Widara saat Pangeran Rangga Gempol III melaksanakan Salat Idulfitri yang jatuh pada hari Jumat, 18 November 1678.

"Dulu ada peristiwa nama banjir darah di Masjid Besar Tegalkalong. Itu sangat terkenal sekali karena pada saat pangeran sedang melaksanakan salat Idulfitri, pada hari Jumat diserang oleh tentara Banten. Bisa dibayangkan kalau orang lagi salat bagaimana, tidak megang senjata dan sebagainya, akhirnya terjadi banjir darah itu," ujar Bachren.

Baca juga: Menjelang Buka Puasa, Polisi Obrak-abrik Pemuda yang Akan Balap Liar di Palabuhanratu Sukabumi

Saat itu, kata dia, Masjid Tegalkalong dikepung rapat setelah khotbah Idulfitri, kemudian masjid juga diserbu melalui semua pintu masjid hingga pertumpahan darah pun tak terhindarkan lagi.

"Masjid Tegalkalong dijadikan ajang pertumapahan darah antara hidup dan mati. Saat itu jumlah penyerbu dibawah kepemimpinan Cilik Widara yang dilengkapi senjata lengkap dan jumlah besar melawan jemaah Masjid Tegalkalong dengan jumlah seadanya dan hanya menggunakan tangan kosong," ucap Bachren.

Akibat penyerangan tersebut sejumlah jemaah Masjid pun gugur yang di antaranya, Tumenggung Jaga Satru, Raden Dipa, Aria Santapura, dan Mas Bayu.

Baca juga: Meski Masuk Sekolah Langsung Ujian, Murid Kelas VI SD di Kota Tasik Senang Bisa Sekolah Lagi

Selain itu, keluarga dari keluarga dari Panembahan juga turut menjadi korban, seperti Raden Singamanggala, Raden Bagus, Raden Tanusuta, dan lain-lain.

"Pangeran Panembahan sendiri berhasil lolos dari kepungan karena Allah SWT, tetap melindungi beliau dan langsung pergi ke Indramayu," katanya.

Ia mengatakan, sejak saat itulah muncul mitos bahwa semua pimpinan enggan melaksanakam salat Idulfitri di Masjid Besar Tegalkalong karena mereka takut hal yang sama kembali terjadi.

"Tapi kalau sekarang mitos itu sudah hilang, pimpinan Sumedang sudah banyak yang salat Idulfitri di masjid ini," ujar Bachren.

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved