Rehabilitasi Bangunan dan Fasilitas yang Rusak Akibat Gempa di Sulbar Sudah 34 Persen
Kementerian PUPR menangani 96 bangunan gedung yang rusak akibat gempa bumi di Sulawesi Barat tersebut.
TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Rehabilitasi sejumlah gedung dan fasilitas umum yang rusak akibat gempa bumi di Sulawesi Barat terus berlanjut.
Kementerian PUPR menangani 96 bangunan gedung yang rusak akibat gempa bumi tersebut. Sejauh ini, Kementerian PUPR sudah mulai menangani 82 bangunan dengan perkembangan fisik mencapai 34,15 persen.
Menteri PUPR, Basuki Hadimuljono, menyebut ada sejumlah langkah penanganan pascabencana gempa bumi di Sulawesi Barat, yaitu membuka akses konektivitas Majene dan Mamuju.
Selain itu, membersihkan puing, menjamin keamanan, dan mengaudit teknis kelayakan semua bangunan khususnya bangunan pemerintah maupun perumahan yang masih berdiri.
"Tujuannya untuk menentukan masih layak atau tidak bangunan meskipun terlihat kasat mata sekilas masih bagus. Jika masih layak untuk digunakan, maka cukup direnovasi sedikit," ujar Basuki Hadimuljono, Jumat (16/4/2021).
Perincian 96 bangunan yang ditangani Kementerian PUPR adalah 56 gedung pemerintahan, 29 bangunan fasilitas kesehatan, 2 gedung perguruan tinggi negeri, 2 bangunan fasilitas ibadah, 5 rumah susun atau perumahan, serta 2 instalasi air minum.
Baca juga: Pagi Tadi Gempa Terjadi di Gunungkidul Yogyakarta, Pusatnya di Darat, Berikut Unggahan BMKG
Baca juga: Tak Hanya Gunungkidul, Gempa Darat Juga Landa Kolaka Utara Sulawesi Pagi Ini, 2 Daerah Rasakan Lindu
Dari 96 bangunan tersebut, 82 bangunan sudah mulai ditangani dengan capaian progres fisik mencapai 34,15 persen.
Bangunan tersebut terdiri dari 46 bangunan proses perbaikan, 11 bangunan dalam proses pembongkaran dan 25 bangunan telah selesai, dimana 12 bangunan telah dilakukan serah terima pemanfaatan.
Kementerian PUPR juga merehabilitasi 41 sekolah negeri dan 3 madrasah negeri yang rusak dengan 1 sekolah negeri yang sudah masuk ke dalam program penanganan reguler Direktorat Prasarana Strategis Ditjen Cipta Karya TA 2021 ini.
Dirjen Cipta Karya Diana Kusumastuti mengatakan total kebutuhan anggaran Rp 856,8 miliar.
"Kebutuhan ini dibagi ke dalam dua tahun anggaran yakni TA 2021 sebesar Rp 400,9 miliar dan TA 2022 sebesar Rp 455,8 miliar,” kata Diana.
Untuk mempermudah rehabilitasi, pelaksanaan di lapangan dibagi menjadi 5 klaster penanganan.
Baca juga: VIDEO Persib Bandung vs PSS Sleman, Robert Alberts Pasang Target Baru dan Sebut Laga Akan Menarik
Baca juga: Marc Marquez Lolos Tes Medis untuk Tampil di MotoGP Portugal 2021
Kriteria pembagian klaster yakni, zonasi lokasi penanganan (kedekatan lokasi penanganan), kompleksitas penanganan, kemampuan dan kesiapan penyedia jasa, serta pengalaman pekerjaan sejenis.
Klaster satu terdiri dari 9 gedung pemerintah dan 3 gedung fasilitas kesehatan. Klaster dua terdiri dari 12 gedung pemerintah, 1 rumah ibadah dan 4 rumah susun/perumahan.
Klaster tiga terdiri dari 16 gedung pemerintah, 12 gedung fasilitas kesehatan, 1 rumah ibadah dan 1 rumah susun/perumahan.
Klaster empat terdiri dari 3 gedung pemerintah dan 11 gedung fasilitas kesehatan. Klaster lima terdiri dari 16 gedung pemerintah, 3 gedung fasilitas kesehatan, 2 fasilitas pendidikan dan 2 infrastruktur lainnya. (Seno Tri Sulistiyono)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul 34,15 Persen Fasilitas Umum yang Rusak Akibat Gempa di Sulbar Selesai Direhabilitasi