DIBANTAH, Tuduhan MUI soal Vaksin AstraZeneca Mengandung Babi, Tegaskan Tak Mengandung Produk Hewani
Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyebut vaksin tersebut haram, karena dalam proses pembuatannya memanfaatkan tripsin asal babi.
"Semua vaksin termasuk Vaksin Covid-19 AstraZeneca, merupakan bagian penting dalam menanggulangi pandemi Covid-19 agar dapat memulihkan keadaan di Indonesia agar dapat memulihkan perekonomian Indonesia secepatnya," tulis keterangan resmi tersebut.
Badan Pengawasn Obat dan Makanan (BPOM) telah melakukan proses evaluasi untuk keamanan khasiat dan mutu dari vaksin AstraZeneca.
Hasil tersebut didapat dari data hasil uji publik yang disampaikan secara keseluruhan pemberian vaksin AstraZeneca 2 dosis dengan interval 8 sampai 12 minggu pada total 23.745 subjek adalah aman dan dapat ditoleransi dengan baik.
Kejadian efek samping yang dilaporkan dalam studi klinik umumnya bersifat ringan dan sedang atau grade 1 dan 2, dan yang paling sering dilaporkan yaitu reaksi lokal seperti nyeri pada saat ditekan, panas, kemerahan dan gatal, dan pembengkakan, serat reaksi sistemik seperti kelelahan, sakit kepala, panas meriang, dan nyeri sendi.
Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Badan POM Lucia Rizka Andalusia mengatakan, efikasi vaksin dengan 2 dosis standar yang dihitung sejak 15 hari pemberian dosis kedua hingga pemantauan sekitar 2 bulan menunjukkan efikasi sebesar 62,1%.
Hasil ini sudah sesuai dengan persyaratan efikasi untuk penerimaan emergency use authorization (EUA) yang ditetapkan oleh WHO yaitu minimal 50%.
“Berdasarkan evaluasi terhadap data khasiat keamanan dan mutu vaksin maka Badan POM telah menerbitkan persetujuan penggunaan pada masa darurat atau emergency use authorization (EUA) pada tanggal 22 Februari 2021 dengan nomor EUA 215810143A1,” kata Lucia.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga meyakinkan vaksin Covid-19 AstraZeneca aman dan bermanfaat sehingga masyarakat perlu ragu dan takut terhadap vaksin produksi negara Ratu Elizbaeth tersebut.
Ia menekankan, pemerintah tentu akan menjamin mutu, keamanan serta khasiat vaksin bagi seluruh masyarakat Indonesia.
“Mudah-mudahan dengan berkenannya kiai NU bisa membangkitkan kepercayaan masyarakat bahwa vaksin ini aman dan berkhasiat untuk digunakan,” tutur Budi.
Perwakilan WHO untuk Indonesia, Dr. N. Paranietharan menekankan pula, vaksin AstraZeneca aman digunakan, karena memiliki efikasi yang melebihi standar yang ditetapkan oleh WHO. Artinya, produk ini sudah pasti dijamin keamanannya untuk digunakan kepada seluruh masyarakat Indonesia.
“Vaksin sangat penting dalam melawan COVID-19. Saat ini vaksinasi COVID-19 telah menjangkau masyarakat yang lebih luas, namun Indonesia tidak boleh lengah. Kita harus terus menerapkan langkah kesehatan masyarakat untuk mengurangi penyebaran virus, seperti menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun, menghindari tempat yang ramai dan tertutup, bahkan setelah kita sudah divaksin,” demikian disampaikan WHO Representative dr N. Paranietharan
Untuk itu, pihaknya berharap kehadiran Vaksin Sinovac maupun AstraZeneca di Indonesia serta vaksin-vaksin lain, dapar segera membawa Indonesia keluar dari pandemi ini.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan per tanggal 22 Maret 2021, jumlah sasaran yang mendapatkan suntikan pertama vaksin COVID-19 sebanyak 5.732.210 orang (14,21%), sementara untuk suntikan kedua ada 2.494.422 orang (6,18%) yang sudah mendapatkan dosis lengkap vaksin COVID-19.
Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan membuka kesempatan bagi seluruh elemen bangsa baik individu maupun instansi untuk membantu program vaksinasi nasional.
Kerja sama ini sekaligus untuk mendapatkan model vaksinasi yang aman dan cepat. (Tribun Network/rin/wly)