Minggu, 19 April 2026

Perjalanan Hidup Putra Siregar Si Raja Giveaway, Makin Sukses Gara-gara Ikuti Saran Atta Halilintar

Namun tak banyak yang tahu bagaimana kehidupan pengusaha kelahiran Desa Gaharu, Kota Medan, Sumatera Utara, 23 Juni 1993 di masa kanak-kanak.

Editor: Ravianto
Via Tribunnews
Putra Siregar pemilik PS Store 

Laporan Wartawan Wartakotalive.com, Arie Puji Waluyo

TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - 'King Giveaway' atau rajanya memberi hadiah, demikian predikat pengusaha ponsel, Putra Siregar.

Namun tak banyak yang tahu bagaimana kehidupan pengusaha kelahiran Desa Gaharu, Kota Medan, Sumatera Utara, 23 Juni 1993 di masa kanak-kanak.

Pemilik toko ponsel PS Store ini belum pernah bertemu sosok ibunya, kerap menahan lapar sewaktu bersekolah, dan bersusah payah merintis bisnis.

Kepada jurnalis Warta Kota Arie Puji Waluyo, sulung dari tiga bersaudara ini menyebut PS Store yang beralamat di Jalan Raya Condet, Jakarta Timur, merupakan toko pertamanya, ukurannya cuma 2x3 meter.

Tapi ia sukses mengembangkan sayap bisnisnya hingga sanggup membeli beberapa toko di wilayah Condet dan sekitarnya.

Seperti apa perjalanan hidup Putra?

Mengapa ia sering memberikan hadiah kepada para pengikut atau followers-nya di media sosial? Bagaimana pula komentarnya terkait kasus yang pernah menjeratnya yakni dugaan penimbunan dan penyelundupan ponsel ilegal.

Sekadar mengingatkan, pada 30 November 2020 lalu, anak pasangan Imran Siregar-Epitamala ini divonis tak bersalah oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Berikut petikan wawancaranya.

Bisa diceritakan masa kecil Anda?

Putra Siregar ketika ditemui disela-sela acara pemberian rekor MURI qurban kepadanya, di Jalan Raya Condet, Jakarta Timur, Jumat (31/7/2020).
Putra Siregar ketika ditemui disela-sela acara pemberian rekor MURI qurban kepadanya, di Jalan Raya Condet, Jakarta Timur, Jumat (31/7/2020). (Warta Kota/Arie Puji Waluyo)

Saya ini berasal dari keluarga, bagaimana ya, 'broken home' (menyebutnya). Saya enggak tinggal sama keluarga dari kecil dan saya enggak pernah lihat paras ibu saya sampai sekarang.

Saya terus cari karena kan katanya surga di bawah telapak kaki ibu tapi ya gimana, saya belum pernah ketemu. Kabar terakhir (malah ada yang bilang ibu saya) sudah meninggal.

Dari kecil saya hidup di jalanan. Untuk bertahan hidup saya nyemir sepatu, ngamen, dan hal lain agar bisa makan. Saya dapat kasih sayang itu dari wanita yang saya anggap sebagai ibu angkat, dia saya anggap orangtua.

Saya sekolah di Pematang Siantar. Ketika besar saya kembali ke Medan meneruskan pendidikan SMA dan kuliah (Universitas Sumatera Utara).

Selain ibu angkat, ada satu orang yang saya ingat betul sampai detik ini, namanya bapak Nando.

Sumber: Warta Kota
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved