Breaking News:

Mutasi Virus Corona Tak Bisa Dicegah, Tujuannya Mempertahankan Diri Supaya Tetap Eksis

Virus corona, serupa dengan virus-virus yang lain akan bermutasi untuk mempertahankan diri. 

Editor: Giri
Pixabay
Ilustrasi virus corona 

TRIBUNJABAR.ID - Virus corona, serupa dengan virus-virus yang lain akan bermutasi untuk mempertahankan diri. 

"Mutasi itu artinya dia berubah. Sebuah virus itu selalu akan berubah, mutasi terus untuk mempertahankan diri supaya tetap eksis. Itu enggak bisa dicegah, alamiah seperti itu," ujar Ketua Tim Peneliti Vaksin Covid-19 Unpad, Kusnandi Rusmil, saat ditemui di RSP FK Unpad, Jalan Eijkman, Kota Bandung, Rabu (3/3/2021).

Pertanyaannya kemudian, apakah vaksin yang hari-hari ini sudah mulai diberikan pada masyarakat di Tanah Air juga efektif untuk melawan varian baru virus, B 117-UK, itu yang belum diketahui secara pasti.

"Itu yang akan kami teliti. Penelitiannya belum selesai, tapi semoga (vaksin) masih bisa mengkaver," ujar uru besar di FK Unpad itu.

Sejauh yang ia ketahui, kata Kusnadi, varian virus B 117-UK tak lebih ganas dari virus corona sebelumnya.

Baca juga: Orang Jawa Barat Terpapar Varian Baru Virus Corona, Gubernur Ridwan Kamil Minta Tidak Panik

Baca juga: UPDATE Gadis Bandung Terbunuh di Kediri, Pelaku Diduga Profesional dan Sudah Kenal Korban

"Keganasannya sama, enggak ada bedanya. Tapi dia lebih menular," ujarnya.

Agar tidak terpapar, protokol kesehatan, kata Kusnadi, harus dijalankan secara lebih ketat dan disiplin.

"Tetap jaga jarak, cuci tangan, enggak boleh sembarangan dan enggak boleh pergi ke mana-mana kalau tidak perlu. Jaga daya tahan tubuh kita dan makan yang benar. Tidak ada jalan lain," ucapnya.

Hal senada, sebelumnya juga diungkapkan epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman.

Ia mengatakan  pemerintah harus melakukan riset terhadap strain baru yang disebut B117 ini.

"Terkait vaksin, ya harus jujur kita akui kita harus lakukan riset, harus kita ada riset terhadap strain baru ini," ujar Dicky.

Hasil riset ini yang nantinya akan menjawab apakah vaksin yang digunakan pemerintah masih menunjukkan efektivitas yang tinggi terhadap strain baru Covid-19.

"Apakah masih efektif, seberapa (efektif)? Kalau efektif ya saya kira ada, tapi seberapa jauh pengaruhnya? Menurunkan efikasi atau tidak, tentu harus diketahui melalui riset," ujar Dicky.

"Sekali lagi ini semua harus berbasis data, riset ini yang harus kita lakukan."

Virus strain baru ini pertama kali dilaporkan di Inggris pada akhir tahun lalu. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan, strain baru virus korona itu 70 persen lebih menular dibandingkan virus aslinya.

Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Zubairi Djoerban, mengungkapkan penamaan B117 atau VUI 202012/01 merujuk pada waktu ditemukan virus strain baru ini.

"VUI singkatan dari variant under investigation (VUI) tahun 2020, bulan 12, varian 01," ujar Zubairi.

Baca juga: Barcelona Lolos dari Lubang Jarum, Menang 3-0 Atas Sevilla dan Melangkah ke Final Copa Del Rey

Baca juga: Dua Pulau Ini Sangat Dekat, Namun Punya Perbedaan Waktu Sangat Lama, Tak Bisa Masuk Sembarangan

Sejauh ini sudah lebih dari 19 negara melaporkan kasus virus corona jenis baru ini di negaranya.

Mulai dari negara Eropa seperti Belanda, Italia, Jerman, dan Prancis, juga negara-negara di Asia mulai dari Malaysia, Filipina, dan Singapura maupun Afrika Selatan.

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Daeng M Faqih, mengatakan, adanya temuan mutasi Sars-Cov2 yang masuk ke Indonesia semakin menguatkan bahwa protokol kesehatan 3M makin penting dijalankan.

"Kalau 3M tidak kendor maka saya yakin pasti kita masih bisa menangkal virus korona," ujarnya. (mega nugraha/syarif abdussalam/tribunnetwork)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved