Kamis, 28 Mei 2026

Bukan Hoax, Warga Kampung Ini Dilarang Makan Lele, Warga Juga Tak Boleh Makan Buah Berkulit,

Kampung di Kuningan ini memiliki tradisi larangan makan lele dan hal tersebut bukan hoax karena dibenarkan olehm pejabat setempat

Tayang:
Penulis: Ahmad Ripai | Editor: Siti Fatimah
plus.google.com
Ilustrasi: Ikan Lele 

TRIBUNCIREBON.COM,KUNINGAN - Cerita rakyat tentang larangan makan ikan lele di benarkan oleh Lurah Cigadung, yakni Dedi Setiadi saat ditemui di kantornya mengungkap, bahwa larangan makan lele itu melibatkan warga Lingkungan Babakan.

"Benar kang, soal warga Babakan gak boleh makan lele itu," ungkap Dedi mengawali perbincangan tadi, Selasa (2/2/2021).

Dedi mengungkap kawasan Cigadung ini memiliki sebanyak 7 Blok dengan jumlah jiwa secara menyeluruh itu sebanyak 9 ribuan.

Warga Satu Dusun di Kuningan Dilarang Makan Lele, Jika Langgar Akan Kena Penyakit, Ini Awal Mulanya

"Lingkungan yang ada di kelurahan ini, biasa di sebut dengan lingkungan Babakan, Cilame, Gibug, Paleben, Ciwaru dan Lingkungan Kamukten," ujar Dedi seraya menambahkan bahwa total kepala keluarga itu ada sekitar 5 ribuan.

Mengenai lokasi mistik yang disebut dengan tempat pesugihan, kata Dedi, sekilas mengetahui bahwa di wilayah kerja itu memang ada.

Namun secara detail tentang cerita dan siapa sosok yang di mistiskan itu tidak tahu.

"Dengar - dengar sih ada, tapi sejarah detailnya gak tahu. Jika ingin mengetahui sejarah bisa langsung komunikasi dengan Pak Ganda selalu RW di sana," ujarnya.

Penghuni Rumah Tertidur Pulas, Maling Pun Sukses Bongkar Jendela dan Gondol Sepeda Motor

Terpisah Ganda (70) saat ditemui dirumahnya mengatakan, lokasi ngipri alias pesugihan sejak beberapa tahun memang tidak ada juru kuncinya.

"Terakhir yang jadi kuncen itu aki saya, tapi sejak tahun 60 an sudah wafat. Begitu juga, kuncen bukan untuk tempat atau memandu orang untuk ritual pesugihan, melainkan mengurus dan merawat Makam Kramat disitu," katanya.

Perlu diketahui, kata Ganda, lingkungan Babakan ini merupakan cikal bakal Kuningan hingga sekarang.

Pembuktian ini dengan tempat pemakaman yang di tua kan dan sering di kunjungi peziarah dari luar daerah.

"Iya, kata orang tua dulu. Babakan itu ngababak atau ngabakalan suatu pemerintahan hingga sekarang. Ini juga ada yang menyebut kampung buhun atau Dayeuh kolot," katanya.

Selain itu, mengenai banyak cerita warga mengenai pamali itu banyak terdapat di wilayah kampung sini. Seperti tak boleh makan lele, nabuh bedug, pergelaran wayang, tak boleh makan buah kulit dan tidak boleh ternak kuda. "Larangan atau ungkapan pamali itu hingga kini berlaku," ujarnya.

Penghuni Rumah Tertidur Pulas, Maling Pun Sukses Bongkar Jendela dan Gondol Sepeda Motor

Di samping itu,untuk di lingkungan Makam Kramat tidak sedikit peziarah itu ada saja melakukan ritual pesugihan.

"Namun lokasi itu banyak di datangi, justru bukan warga sekitar. Istilah orang tua itu kurung batokeun," katanya.

Ganda menyebut lokasi Makam Kramat itu terdapat makam panjang dan ada makam menjurus ke kiblat alias bukan pada umumnya.

"Makam Kramat itu ada di daerah perbatasan Kuningan, Ditangtu dan tanahnya masuk ke Cigadung," katanya. 

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved