Breaking News:

DPD PPNI Kota Bandung Advokasi Perawat Terpapar Covid-19 di Kota Bandung

DPD PPNI Kota Bandung turut andil dalam upaya advokasi terhadap perawat yang berada di lingkungan Kota Bandung.

Penulis: Kemal Setia Permana | Editor: Siti Fatimah
Istimewa
Webinar “ Advokasi Perawat Terpapar COVID-19 di Lingkungan Kota Bandung” yang digelar oleh Dewan Pengurus Daerah (DPD) PPNI Kota Bandung sebagai andil dalam upaya advokasi terhadap perawat yang berada di lingkungan Kota Bandung. 

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Sudah sekitar sepuluh bulan pandemi Covid-19 menghantui masyarakat dunia. di Indonesia, data hingga 9 Januari 2021 menunjukkan 69.865 kasus terkonfirmasi,  23.947 meninggal, dan 673.511 sembuh.

Sementara kasus perawat meninggal dunia sebagai akibat virus tersebut sudah lebih dari 170 orang, sedangkan jumlah dokter yang meninggal tercatat lebih dari 237 yang gugur dalam upaya perang melawan Covid-19, belum lagi tenaga kesehatan lainnya. 

Hal itu terungkap dalam webinar “ Advokasi Perawat Terpapar COVID-19 di Lingkungan Kota Bandung” yang digelar oleh Dewan Pengurus Daerah (DPD) PPNI Kota Bandung sebagai andil dalam upaya advokasi terhadap perawat yang berada di lingkungan Kota Bandung.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu (10/1/2021) dihadiri oleh ratusan peserta yang berasal dari perawat anggota Dewan Komisariat (DPK) PPNI yang berada di lingkungan DPD PPNI Kota Bandung.

Ketua DPD Kota Bandung Ani D Rasiani, S.Kep.,Ners.,M.Kep, menyampaikan bahwa semua komponen bangsa perlu aktif dan bersinergi mengatasi pandemi, sebab bila lonjakan kasus terjadi, hal ini berdampak pada sistem pelayanan kesehatan yang tidak akan mampu lagi melayani. 

"Perawat, dokter, dan tenaga kesehatan lain yang meninggal akibat Covid-19 terus bertambah, rumah sakit pun memiliki keterbatasan daya tampung," ujar Ani.

PPNI menyadari potensi risiko terpapar berbanding lurus dengan penambahan kasus.

Semakin banyak pasien yang terpapar akan semakin banyak jumlah perawat yang dibutuhkan untuk memberikan perawatan.

Sebagian besar rumah sakit/ fasyankes mengalami krisis tenaga keperawatan dan harus mengatur ulang penempatan perawat dengan meyesuaikan kondisi pasien dan kemampuan fasyankes. 

"Di sisi lain perlindungan terhadap perawat belum sepenuhnya maksimal, proteksi paparan belum sesuai dengan standar keselamatan kerja bagi tenaga keperawatan, ketersediaan alat pelindung diri (APD) belum memadai, jumlah perawat tidak sesuai dengan rasio pasien dan apresiasi dan kompensasi terhadap kinerja perawat belum optimal," katanya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved